Ramai Nilai SPMB Berubah Sendiri, Dedi Mulyadi Ungkap Penyebab Sebenarnya.
📅 Rabu, 10 Jun 2026, 09:27 WIB | Oleh: Yebdi Trismar
Doc: Antara Foto
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi buka suara menanggapi keresahan publik terkait fenomena penyusutan skor pendaftar dalam sistem Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) Jabar 2026, dan meminta para orang tua siswa untuk tidak panik.
Dedi menegaskan bahwa perubahan nilai yang terjadi secara otomatis di dalam sistem murni disebabkan oleh proses penyesuaian standardisasi sertifikat prestasi yang harus mengacu pada regulasi ketat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen).
"Misalnya, kejuaraan di provinsi itu skornya di bawah kejuaraan nasional. Kayak tadi kan, 'Saya juara di luar negeri', tapi itu tidak diakui sebagai kejuaraan yang terdaftar di Kemdikdasmen," ujar Dedi di Kantor Disdik Jabar, Bandung, Selasa.
Gubernur yang akrab disapa KDM itu menggarisbawahi bahwa polemik penyusutan skor ini muncul pada tahapan PCMB, yang sejatinya merupakan fase pendataan awal untuk memetakan sebaran calon siswa di sekolah negeri, dan bukan merupakan tahapan pendaftaran resmi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jabar 2026 yang baru akan dibuka pada 15 Juni mendatang.
"Sebenarnya pemetaan itu bukan pendaftaran, tetapi ketika orang sudah terpetakan dengan baik, kemudian dalam sisi kualifikasi sudah memenuhi syarat, ya sudah jalan," ucapnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari total sekitar 340.000 calon murid baru yang masuk dalam basis data pemetaan, Pemprov Jabar mencatat hanya sebagian kecil pendaftar yang mengalami anomali skor.
KDM justru menilai kemunculan kendala ini di awal merupakan bukti keberhasilan fungsi PCMB sebagai instrumen mitigasi risiko.
Dengan mendeteksi error sistem lebih cepat, pemerintah memiliki ruang untuk melakukan evaluasi dan perbaikan teknis sebelum masa pendaftaran resmi dimulai, sehingga potensi kepanikan massal akibat keterbatasan waktu pengumuman kelulusan dapat dihindari.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Jadi, bagi saya, kegiatan pemetaan ini relatif berhasil. Kami bisa memitigasi berbagai problem dibandingkan kami bikin SPMB, ditutup, orang tua siswa anaknya tidak diterima, waktunya terbatas," tutur Dedi.
Lebih lanjut, ia mengidentifikasi bahwa akar persoalan yang dikeluhkan masyarakat dalam beberapa hari terakhir murni merupakan kendala teknis pada aplikasi penunjang, bukan akibat kerumitan regulasi atau sistem penerimaan yang cacat.
"PCMB itu tujuannya untuk memetakan seluruh siswa di seluruh sekolah Provinsi Jawa Barat di sekolah-sekolah negeri. Sehingga, pemetaan itu nanti bagi mereka siswa yang sudah memenuhi syarat, kemudian memang sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Kemdikdasmen, mereka sudah otomatis menjadi siswa," katanya.
Dedi juga memberikan garansi bahwa seluruh gangguan teknologi pada aplikasi akan rampung dibenahi oleh tim teknis dalam sisa waktu yang tersedia menjelang pertengahan Juni.
"Kalau saya melihat problemnya tadi sederhana. Ini kan dari 340.000 ada beberapa problem yang disebabkan oleh teknis aplikasi. Tidak usah panik. Lebih baik kita hadapi kesulitan sekarang. Masih ada waktu untuk membenahi," ujar Dedi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!