Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Rupiah Terkapar di Rp17.800, Pasar Soroti Kredibilitas Kebijakan Pemerintah

📅 Kamis, 28 Mei 2026, 13:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Rupiah Terkapar di Rp17.800, Pasar Soroti Kredibilitas Kebijakan Pemerintah Doc: Antara
Ket. Ilustrasi - Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Haji La Tunrung, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (20/5).

Jakarta - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai nilai tukar rupiah saat ini tengah menghadapi tekanan ekonomi yang besar, menyusul pelemahan kurs yang menembus level Rp17.800 per dollar AS di pasar offshore atau luar negeri.

Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (28/5), Fakhrul menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, kenaikan harga energi global biasanya akan menekan inflasi, fiskal, harga domestik, hingga nilai tukar. Namun, ketika pemerintah memilih menahan penyesuaian harga domestik secara hati-hati demi menjaga stabilitas sosial dan daya beli masyarakat, maka tekanan ekonomi lebih banyak dialihkan ke rupiah.

“Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs,” ujar Fakhrul.

Menurut dia, hal tersebut membuat pelemahan rupiah terlihat jauh lebih besar dibandingkan sejumlah indikator ekonomi lainnya. Kondisi ini, lanjutnya, sejalan dengan teori Dornbusch Overshooting, yakni ketika harga domestik cenderung rigid sementara pasar keuangan bergerak sangat cepat, sehingga nilai tukar bergerak lebih ekstrem dibandingkan fundamental ekonominya.

“Inflasi yang seharusnya muncul di banyak tempat akhirnya terlalu banyak ditanggung oleh rupiah,” katanya.

Fakhrul menilai fenomena seperti ini kerap terjadi di negara berkembang yang memilih menjaga stabilitas harga domestik dalam jangka pendek. Pemerintah Indonesia, kata dia, kini menghadapi dilema antara mempertahankan daya beli masyarakat dan menjaga stabilitas eksternal.

Ia memahami keputusan pemerintah menahan penyesuaian harga energi dari sisi sosial dan politik. Namun, konsekuensinya tekanan ekonomi menjadi lebih terkonsentrasi di pasar keuangan.

“Kalau harga domestik dibuat rigid sementara tekanan global terus naik, maka pasar valuta asing akhirnya yang bergerak paling ekstrem,” ujarnya.

Meski demikian, Fakhrul menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif baik dibandingkan banyak negara berkembang lainnya. Inflasi domestik dinilai masih terkendali, sektor perbankan relatif sehat, dan pertumbuhan ekonomi tetap positif.

Namun, ia mengingatkan bahwa pasar saat ini tidak hanya melihat angka headline ekonomi, tetapi juga memperhatikan kekuatan arah kebijakan pemerintah.

“Pasar melihat apakah Indonesia punya policy anchor yang cukup kuat untuk menghadapi era global baru yang jauh lebih volatile dan inflationary,” kata dia.

Menurut Fakhrul, yang sedang diuji saat ini bukan hanya fundamental ekonomi, melainkan juga kredibilitas dan konsistensi kebijakan. Ia menambahkan, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor global seperti geopolitik, fragmentasi perdagangan dunia, penguatan dolar AS, dan tingginya imbal hasil (yield) US Treasury, tetapi juga dipengaruhi faktor domestik.

Pasar, menurut dia, melihat adanya ketidakseimbangan antara kebijakan fiskal dan moneter. Selain itu, komunikasi kebijakan yang dinilai muncul mendadak di tengah sentimen pasar yang negatif turut memperbesar ketidakpastian.

“Ketika fiskal memilih menjaga inflasi tetap rendah dan adjustment harga sangat terbatas, maka BI dan rupiah harus bekerja jauh lebih keras,” ujar Fakhrul.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

Hari Santri Nasional

52 menit yang lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

55 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

1 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

1 jam lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.