Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Lumbung Padi Bali Mulai Terdesak, Petani Tabanan Bertahan di Tengah Pembangunan

📅 Senin, 18 Mei 2026, 07:13 WIB | Oleh:
Lumbung Padi Bali Mulai Terdesak, Petani Tabanan Bertahan di Tengah Pembangunan Doc: Antara Foto
Ket. Lahan sawah di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengalami alih fungsi seiring tingginya pembangunan perumahan salah satunya di Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, dimana lahan pesawahan berdampingan dengan perumahan.

 Gemerlap pariwisata di Pulau Dewata semakin hari semakin banyak mendatangkan dampak. Dari pertumbuhan ekonomi yang semakin menguat sampai fakta bahwa sarana pendukungnya semakin meningkat sehingga ada yang perlu dikorbankan.

Pada sisi pertumbuhan ekonomi, Badan Pusat Statistik Provinsi Bali memotret sepanjang 2025 pertumbuhan ekonomi di angka 5,82 persen dengan lapangan usaha kategori penyediaan akomodasi dan makan minum sebagai tulang punggungnya.

Peluang dari sektor tersebut mendorong meningkatnya kebutuhan akan sarana pariwisata, mulai dari akomodasi baik hotel, vila, penginapan; tempat makan atau kuliner; hingga usaha jasa.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut ada ruang yang perlu dikorbankan, seperti lahan pertanian produktif di Kabupaten Tabanan,  lumbung padinya Bali yang belakangan makin diincar untuk pembangunan.

Para petani yang masih aktif panen tiga kali setahun mulai dihadapkan dengan derasnya alih fungsi lahan. Hanya kepastian penyerapan gabah dan kepedulian terhadap masa depan yang masih jadi pertimbangan mereka bertahan.

Setia bertani

I Gusti Made Sugiarta merupakan petani dari Desa Timpag, Tabanan, yang terus aktif mengelola lahan pertaniannya.

“Saya masih ke sawah setiap hari. Saya juga bantu garap sawah milik saudara, paling tidak sekarang sudah ada kepastian gabah saya dibeli Bulog,” kata Sugiarta saat ditemui di Tabanan.

Dia tak ingat sejak tahun berapa ia menjual gabah kering panen ke Bulog. Yang pasti ia memilih setia daripada menjual ke produsen beras lain atau tengkulak yang tidak jelas.

Alasannya, karena tekanan harga yang berubah-ubah, sejumlah petani kerap dihutangi dalam waktu lama, bahkan banyak yang uangnya dilarikan.

Dengan skema mengumpulkan gabah kering ke pembeli gabah terpercaya yang menjual ke Bulog Bali, petani mendapat kepastian harga Rp6.500 per kilogram dan sudah pasti dibeli sepanjang tahun.

Selain kepastian hasil pertaniannya laku, Sugiarta juga bisa memastikan anak cucunya tetap dapat berkelanjutan menikmati dan mengelola hasil pertanian. Itulah yang membuat dia bertahan sebagai petani di tengah iming-iming investor pariwisata.

Sri Astuti, pembeli gabah petani di Tabanan ikut menceritakan penuturan petani di desa lain yaitu Desa Cemagi.

Di desa yang tak jauh dari kawasan pariwisata Canggu itu para petani bahkan ditawari harga hampir Rp1 milyar untuk 100 meter persegi sawahnya oleh investor.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Usai Dugaan Korupsi, BGN Di...
Luar Biasa, Kiper Vozinha dari Cape Verde Pilihan FIFA untuk Tim Terbaik Dunia

Luar Biasa, Kiper Vozinha dari Cape Verde Pilihan FIFA untuk Tim Terbaik Dunia

23 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.