Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Benteng Amsterdam, Saksi Bisu Kejayaan Rempah di Negeri Hila, Maluku

📅 Senin, 18 Mei 2026, 17:20 WIB | Oleh:
Benteng Amsterdam, Saksi Bisu Kejayaan Rempah di Negeri Hila, Maluku Doc: ANTARA/Syamsul Rizal
Ket. Benteng Amsterdam di Negeri Hila, Maluku.

NEGERI HILA, MALUKU - Sekitar satu jam perjalanan naik mobil dari kota Ambon, Anda bisa melihat jejak sejarah yang masih berdiri tegak: Benteng Amsterdam.

Dibandingkan perjalanan di ibu kota Jakarta yang terasa panjang akibat macet, jarak yang ditempuh untuk tiba dari pusat kota Ambon ke Benteng Amsterdam memang cukup jauh: 42 km.

Dari keramaian bangunan perkantoran, restoran, toko kelontong, jalanan yang dilewati berubah menjadi jalan kecil berliku. Suasana kota berubah menjadi rumah-rumah pedesaan yang berjejer rapi. Sekilas terlihat warga berjualan ikan, menawarkan hasil melaut hari itu. Beberapa masjid juga terlihat begitu mencolok di pinggir jalan.

Berlokasi di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Benteng Amsterdam siang itu ramai oleh pengunjung.

Rupanya mereka adalah rombongan berisi dosen-dosen yang sedang melakukan perjalanan wisata sejarah. Tenda biru yang lebar melindungi para tamu dari teriknya sinar matahari Maluku. Mereka duduk rapi sambil bercengkerama menunggu pertunjukan bambu gila yang dilakukan di depan Benteng Amsterdam.

Tawa dan jerit terdengar dari penonton ketika melihat rekan-rekan mereka mencoba sendiri permainan bambu gila yang membuat mereka bergerak ke sana sini.

Keramaian itu hal yang biasa di Benteng Amsterdam.

"Buat masyarakat dan siapa pun dia yang mau datang ke sini bikin acara di sini, itu kami siap," kata Damir Lating, polisi khusus cagar budaya, kepada ANTARA pada April 2026.

Menurut Damir, cagar budaya ini juga kerap menjadi lokasi acara-acara institusi seperti perpisahan pejabat hingga sosialisasi.

Sejarah panjang

Jauh sebelum dijadikan tempat berkumpul untuk acara-acara resmi, Benteng Amsterdam punya sejarah panjang.

Benteng telah berdiri sejak 1512 oleh Portugis yang dipimpin Fransisco Serrao. Awalnya, benteng ini berfungsi sebagai gudang rempah Portugis.

Nyaris satu abad setelah Portugis tiba, giliran Belanda yang memasuki Pulau Maluku pada 1605.

"Sebelum bangsa Portugis masuk Maluku, di sini sudah ada kerajaan Islam yang masuk dulu yang dikenal dengan nama Kerajaan Hitu, pusat kerajaannya di negeri Hila," jelas Damir.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Daerah
Kemampuan Literasi Bukan Se...
Daerah
Mewujudkan Literasi Sebagai...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Polri Aktifkan Satgas Cegah Praktik Judi Selama Piala Dunia 2026

Polri Aktifkan Satgas Cegah Praktik Judi Selama Piala Dunia 2026

10 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.