Sulit Kurangi Jurang Kaya dan Miskin tanpa Pertumbuhan Berkualitas
📅 Selasa, 18 Agu 2026, 01:35 WIB | Oleh: Tim RedaksiTantangan Bangsa - Pertumbuhan yang Tinggi Tidak Otomatis Mengentaskan Kemiskinan
Pembangunan tidak cukup dinilai dari pertumbuhan ekonomi, investasi, maupun besarnya proyek, tetapi harus dilihat dari sejauh mana hasil pembangunan memperkuat kesejahteraan dan kemandirian masyarakat.
JAKARTA - Politik Tiongkok sejak Agustus hingga Oktober mendatang memasuki periode yang tidak biasa.
Komentator politik dan kolumnis independen, Deng Yuwen menyebutnya sebagai periode “superpolitik” Tiongkok yang merujuk pada situasi di mana sejumlah peristiwa politik besar terjadi dalam waktu berdekatan sehingga saling memperkuat tafsir politik.
Peristiwa politik besar di Tiongkok itu yakni wafatnya mantan Perdana Menteri Tiongkok, Zhu Rongji pada 12 Agustus 2026, lima hari sebelum peringatan 100 tahun kelahiran mantan Presiden Jiang Zemin, dan kurang dari dua bulan menjelang Partai Komunis Tiongkok akan menggelar sidang pleno kelima Komite Sentral ke-20.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kedua tokoh yakni Zhu Rongji dan Jiang Zemin sangat disegani rezim saat ini.
Meski kedua pemimpin tersebut dikenal sebagai pemimpin yang otokratik, kekuasaan dan pengambilan keputusan sangat terpusat di satu orang, namun ekonomi maju pesat karena mereka juga demokratis.
Di era mereka, ekonomi Tiongkok berturut-turut tumbuh double digit, hingga 12 persen.
Kini Tiongkok mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi.
Meski tumbuh pesat dalam beberapa tahun, namun itu belum mengubah Tiongkok menjadi negara maju, karena permasalahannya belum semua rakyat Tiongkok bebas dari kemiskinan.
Tiongkok belum sepenuhnya menjadi negara maju tetapi pertumbuhan ekonominya sudah mentok.
Meski bisa tumbuh sekitar 5 persen, namun tidak lebih baik dibanding negara maju yang tumbuh hanya 2 persen.
Ratusan juta rakyat Tiongkok yang miskin itu lah yang menyebabkan Tiongkok susah mengejar negara-negara maju.
Periode “superpolitik” itulah yang mengkhawatirkan pemerintah Tiongkok saat ini, terutama jika rakyatnya bernostalgia akan kemajuan ekonomi era Zhu- Jiang karena dua tokoh itu yang mengangkat Tiongkok menjadi super power seperti saat ini.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (8)
18 Aug 2026, 13:07 WIB.
Ulasan yang sangat mencerahkan mengenai esensi pembangunan; hal ini mengingatkan kita bahwa akselerasi pertumbuhan makro yang tinggi tanpa dibarengi dengan inisiatif pemerataan fundamental di tingkat akar rumput, sebagaimana tergambar dalam studi kasus Tiongkok, pada akhirnya hanya akan menciptakan ilusi kemajuan tanpa benar-benar menutup jurang ketimpangan sosial di tengah masyarakat.
Balas18 Aug 2026, 15:43 WIB.
Betul. Pemerintah perlu evaluasi mendasar dengan menempatkan ekonomi kerakyatan di pilar utama nya
Balas18 Aug 2026, 15:43 WIB.
Saya pikir, setuju sekali bahwa pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari angka makro. Manfaat pembangunan juga harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat hingga tingkat akar rumput. Tanpa pemerataan yang nyata, pertumbuhan ekonomi justru berisiko memperlebar kesenjangan sosial.
Balas18 Aug 2026, 15:44 WIB.
Setuju sekali. Pembangunan sejatinya bukan hanya soal seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat.
Balas18 Aug 2026, 15:44 WIB.
Menarik, karena tidak hanya membahas dinamika politik dan ekonomi Tiongkok, tetapi juga mengajak kita bercermin pada kondisi Indonesia. Gagasan untuk kembali memperkuat ekonomi kerakyatan patut mendapat perhatian serius.
Balas18 Aug 2026, 15:44 WIB.
Zhu Rongji dan Jiang Zemin emang patut dicontoh nih
Balas18 Aug 2026, 15:46 WIB.
kyk nama artis dracin :)
Balas18 Aug 2026, 15:45 WIB.
Indonesia perlu mencontoh negara lain yg sdh terbukti mampu keluar dari jebakan middle income trap
BalasSilakan login via Google untuk dapat memberi komentar!