Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mataram Punya Solusi Unik Atasi Sampah Organik, Bisa Kurangi 10 Ton per Hari

📅 Sabtu, 16 Mei 2026, 10:42 WIB | Oleh:
Mataram Punya Solusi Unik Atasi Sampah Organik, Bisa Kurangi 10 Ton per Hari Doc: Antara Foto
Ket. Fasilitas "tempah dedoro" atau tempat pengolahan sampah organik di salah satu sudut Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pagutan, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sabtu (16/5).

Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengatakan, fasilitas tempat pengolahan sampah organik di Kota Mataram, atau "tempah dedoro"  diperkirakan dapat mengurangi minimal 10 ton sampah organik, per hari, dengan jumlah fasilitas saat ini mencapai ratusan titik.

"Sejak dicanangkan akhir Januari 2026, jumlahnya kini sudah mencapai 270 unit lebih," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram H Nizar Denny Cahyadi di Mataram, Sabtu.

Ia mengatakan, jumlah itu merupakan fasilitas yang disiapkan Pemerintah Kota Mataram, belum termasuk yang dibuat secara mandiri oleh masyarakat yang memiliki lahan, dan di dapur makan bergizi gratis (MBG).

Sesuai ketentuan, semua dapur MBG di Kota Mataram diwajibkan memiliki "tempah dedoro" minimal dua unit untuk mengolah sampah organik, sehingga dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat.

"Program 'tempah dedoro', kami estimasikan mampu berkontribusi melakukan pengurangan sampah ke TPA minimal 10 ton sampah organik per hari," katanya.

Terkait dengan itu, kedepan pemerintah kota berencana mengalokasikan anggaran melalui APBD Perubahan 2026, untuk 50 kelurahan se-Kota Mataram guna menambah unit 'tempah dedoro' yang lebih estetis dan fungsional.

Penempatan 'tempah dedoro' termasuk untuk ruang terbuka hijau (RTH) seperti Udayana, Pagutan, RTH Sayang-Sayang, dan Taman Sangkareang, dan fasilitas publiknya.

"Satu unit 'tempah dedoro' estetik atau dilengkapi dengan tempat duduk, membutuhkan anggaran sekitar Rp800 ribu hingga Rp1 juta per titik," katanya.

Sistem pengolahan sampah melalui "tempah dedoro" dibuat dengan menggunakan buis beton dan penutup serta diberi lubang untuk membuang sampah organik.

Melalui wadah tersebut, masyarakat bisa mengolah sampah organik secara mandiri di lingkungan sebab satu "tempah dedoro" bisa digunakan untuk 3-4 kepala keluarga.

Sementara untuk menghilangkan aroma dari sampah organik dan sisa makanan, bisa menyemprotkan cairan EM4 sekaligus mempercepat penguraian. Selain itu, bisa juga menggunakan air bekas cuci beras yang mudah didapatkan.

"Setelah sampah organik terurai dalam waktu sekitar satu tahun, masyarakat bisa panen kompos sebagai pupuk alami untuk tanaman yang ada di pekarangan rumah," katanya.

Setelah semua berjalan, lanjutnya, masyarakat diharapkan berpartisipasi membuat "tempah dedoro" secara mandiri, begitu juga dengan pusat perkantoran, hotel, restoran, katering, dan sekolah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Harga Energi dan Biaya Hidu...
Megapolitan
Dana Cadangan, Pramono Usul...
Luar Negeri
PBB akan Alokasikan Dana un...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.