Kemendag Fasilitasi UMKM Tembus Pasar Internasional, Sediakan Akses Buyer di 33 Negara
📅 Kamis, 14 Mei 2026, 15:00 WIB | Oleh: Paundra ZakirullohJAKARTA - Ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dalam forum NGOPI: Ngobrol Produk Indonesia di Jakarta Pusat, Rabu (13/5). Forum tersebut menjadi wadah bagi pelaku usaha untuk belajar, berbagi pengalaman, hingga membuka peluang ekspor ke pasar internasional.
Pelaku usaha yang hadir berasal dari beragam sektor dan daerah. Mulai dari pengusaha batik asal Solo, produsen camilan dari Balikpapan, hingga pelaku usaha pangan dari Manado.
Mereka datang dengan satu tujuan yang sama, yakni membawa produk lokal menembus pasar global. Forum berlangsung santai namun penuh antusiasme dengan mempertemukan UMKM, eksportir, hingga agregator dalam satu ruang diskusi.
Sejumlah pelaku usaha yang baru ingin memulai ekspor memanfaatkan forum tersebut untuk mencari informasi. Mereka menggali pengetahuan mengenai prosedur ekspor, peluang pasar, hingga membangun jaringan bisnis internasional.
Abdullah, pengusaha batik asal Solo, menjadi salah satu peserta yang ingin memperluas pasar produknya ke luar negeri. Hal serupa juga dilakukan Hamzah, pelaku usaha kopi sangrai asal Jakarta, serta Nana yang menjalankan usaha camilan rumahan di Balikpapan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, pelaku usaha yang telah lebih dulu menembus pasar internasional membagikan tantangan yang mereka hadapi. Mereka menilai ekspor bukan akhir perjalanan bisnis, melainkan awal tantangan baru.
"Ada banyak regulasi baru seperti aturan produk dangerous goods hingga kebijakan devisa hasil ekspor yang harus kami ikuti. Hal tersebut memengaruhi kecepatan ekspor karena kami harus menyesuaikan diri," ujar Marisa Hidayat, pemilik PT Herisa Dwi Sejahtera.
Pelaku usaha bubuk cokelat PT Terra Internasional Indonesia, Nurul Afni, juga membagikan pengalamannya menembus pasar internasional seperti Sri Lanka, Mesir, dan Pakistan. Ia menilai kondisi global menjadi tantangan tersendiri bagi eksportir nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Saat ini perang sangat menantang sekali, kemudian meningkatnya dolar Amerika Serikat menjadi tantangan ketika berjualan karena harga-harga meningkat tajam. Saya rasa forum ini sangat membantu para eksportir karena kami saling tukar rasa dengan masalah yang kami hadapi," ungkap Nurul.
Menteri Perdagangan Budi Santoso turut hadir dalam forum tersebut dan mendengarkan langsung aspirasi para pelaku usaha. Ia mengatakan pemerintah memiliki program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor untuk membantu pelaku usaha masuk ke pasar global.
Menurut Budi, Kementerian Perdagangan memiliki 46 perwakilan dagang yang terdiri dari Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center di 33 negara. Jaringan tersebut disiapkan untuk membantu promosi produk nasional hingga mencarikan pembeli di luar negeri.
"Banyak pelaku usaha cerita ke saya kalau mereka bingung untuk mendapatkan buyer. Nah, Kemendag punya UMKM BISA Ekspor dengan perwakilan di 33 negara. Kalau terkait bahasa, tidak perlu khawatir akan difasilitasi para perwakilan dagang," ujar Budi.
Selain itu, Mendag juga memperkenalkan Indonesia Design Development Center sebagai fasilitas bagi UMKM yang ingin memperbaiki desain produk agar lebih kompetitif di pasar ekspor.
"Kalau ada pelaku usaha yang punya produk tapi kesulitan ekspor karena desainnya belum bagus, kami fasilitasi konsultasi di IDDC," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!