Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Fitch Nilai Ketidakpastian Kebijakan jadi Faktor Utama Hambat Kepercayaan Investor

📅 Jumat, 03 Jul 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Fitch Nilai Ketidakpastian Kebijakan jadi Faktor Utama Hambat Kepercayaan Investor Doc: istimewa
Ket. Peringatan Fitch Ratings terhadap kondisi ekonomi Indonesia dinilai sebagai sinyal serius yang tidak boleh diabaikan.

JAKARTA - Peringatan Fitch Ratings terhadap kondisi ekonomi Indonesia dinilai sebagai sinyal serius yang tidak boleh diabaikan. Pengamat Kebijakan Publik Fitra, Badiul Hadi, menyebut fondasi ekonomi nasional mulai menghadapi tekanan yang semakin nyata.

“Penyempitan surplus perdagangan yang kini berbalik menjadi defisit, rupiah yang menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kelompok negara sekelas, penurunan cadangan devisa sebesar 4,6 persen sepanjang Maret–Mei 2026, serta meningkatnya posisi short valas Bank Indonesia hingga hampir 27 miliar dollar AS menunjukkan bahwa risiko eksternal tidak lagi dapat dianggap sebagai gejolak sementara,” kata Badiul.

Menurut Badiul, yang lebih mengkhawatirkan adalah akar persoalannya. Fitch menilai ketidakpastian kebijakan atau policy uncertainty masih menjadi faktor utama yang menghambat kepercayaan investor.

“Persepsi bahwa pengambilan keputusan semakin terpusat, ditambah ketidakjelasan implementasi sejumlah kebijakan strategis seperti pemusatan ekspor komoditas melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), meningkatkan premi risiko dan menurunkan kredibilitas kebijakan ekonomi Indonesia,” jelasnya.

Ia juga menyoroti biaya dari intervensi Bank Indonesia untuk menjaga rupiah. Sekilas, intervensi BI memang mampu menjaga stabilitas rupiah dalam jangka pendek. Namun stabilitas tersebut dibayar dengan berkurangnya cadangan devisa dan semakin ketatnya likuiditas domestik.

“Jika tekanan arus modal keluar terus berlangsung, maka sebagaimana diperingatkan Fitch, tekanan terhadap peringkat utang Indonesia akan semakin besar,” kata Badiul.

Ruang Fiskal Semakin Sempit

Dalam konteks fiskal, Badiul memaparkan data perbandingan yang mencolok. Pada 2026, utang negara telah menembus 10 ribu triliun rupiah 500 miliar dollar AS diantaranya utang luar negeri. Sedangkan, beban bunga diperkirakan 30 miliar dollar AS per tahun atau 540 triliun rupiah dengan asumsi kurs 18.000 rupiah per dollar AS.

Sebaiknya Anda baca juga:

“Dengan pendapatan APBN sekitar 2.800 triliun rupiah dan defisit sekitar 700 triliun rupiah, maka kombinasi beban bunga dan defisit mencapai sekitar 1.240 triliun rupiah atau sekitar 44 persen dari pendapatan negara,” paparnya.

Sebagai pembanding, menjelang krisis 1998 beban bunga hanya 21 persen dari APBN, dengan cadangan devisa 47 persen dari utang luar negeri dan surplus perdagangan 20 persen dari utang luar negeri.

“Bandingkan dengan kondisi 2026. Cadangan devisa sekitar 158 miliar dollar AS hanya setara 31 persen dari total utang luar negeri. Surplus perdagangan sekitar 41 miliar dollar AS hanya 8 persen dari utang luar negeri, bahkan pada kuartal II telah berubah menjadi defisit. Artinya, bantalan eksternal Indonesia relatif lebih tipis,”tegasnya.

Badiul menekankan, kondisi ini bukan berarti Indonesia mengulangi krisis 1998, tetapi menunjukkan bahwa beberapa indikator ketahanan eksternal justru bergerak ke arah yang perlu diwaspadai.

Badiul mendorong pemerintah tidak cukup hanya menjaga optimisme pasar. Hal yang lebih mendesak adalah memulihkan kredibilitas kebijakan melalui disiplin fiskal, penguatan tata kelola utang, kepastian regulasi, transparansi kelembagaan, serta memperkuat sektor eksternal.

“Kepercayaan investor dibangun oleh kualitas kebijakan, bukan oleh narasi,” tegasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

AS Resmi Tolak Perpanjang USMCA

20 menit yang lalu | Lukman

Luar Negeri
AS Resmi Tolak Perpanjang U...
Nasional
“Capital Inflow” Dinila...
Luar Negeri
Suasana Damaskus Mencekam, ...
Pertamina dan KKP Berkolaborasi Perkuat Pasokan BBM Nelayan Dukung Perikanan Nasional

Pertamina dan KKP Berkolaborasi Perkuat Pasokan BBM Nelayan Dukung Perikanan Nasional

02 Jul 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.