Penyakit Mematikan yang Masih Mengancam
📅 Selasa, 21 Apr 2026, 07:17 WIB | Oleh: Haryo BronoDEMAM scarlet, atau dalam istilah medis dikenal sebagai scarlet fever, pernah menjadi salah satu penyakit paling ditakuti di dunia. Sebelum era antibiotik, infeksi ini menjadi momok global, terutama bagi anak-anak, dengan tingkat kematian yang signifikan di berbagai negara.
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Streptococcus pyogenes, patogen yang juga menjadi penyebab radang tenggorokan dan sejumlah infeksi serius lainnya pada manusia. Meski kini relatif dapat diobati, sejarah panjang demam scarlet menunjukkan bagaimana interaksi antara manusia dan mikroorganisme dapat membentuk dinamika kesehatan global.
Secara klinis, demam scarlet biasanya diawali dengan gejala infeksi tenggorokan. Penderita mengalami demam tinggi, nyeri saat menelan, serta pembengkakan kelenjar getah bening. Dalam waktu satu hingga dua hari, muncul ruam merah terang yang menjadi ciri khas penyakit ini.
Ruam tersebut terasa kasar seperti amplas dan umumnya bermula dari area leher serta dada sebelum menyebar ke seluruh tubuh. Salah satu tanda yang paling mudah dikenali adalah perubahan warna lidah menjadi merah terang dengan bintik menonjol, kondisi yang dikenal sebagai strawberry tongue.
Penyakit ini paling sering menyerang anak usia 5 hingga 15 tahun. Penularannya terjadi melalui droplet atau percikan cairan dari saluran pernapasan, sehingga mudah menyebar di lingkungan padat seperti sekolah dan permukiman dengan sanitasi terbatas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Peran Toksin dalam Memicu Gejala
Tidak semua infeksi oleh Streptococcus pyogenes berkembang menjadi demam scarlet. Penyakit ini muncul ketika bakteri menghasilkan toksin eritrogenik, yakni zat yang memicu reaksi imun berlebihan dalam tubuh.
Secara ilmiah, toksin ini bertindak sebagai superantigen, yang mengaktifkan sistem imun secara masif. Akibatnya, tubuh melepaskan sitokin dalam jumlah besar, memicu peradangan luas yang terlihat dalam bentuk ruam kulit dan gejala sistemik lainnya. Dengan demikian, gejala demam scarlet bukan hanya akibat invasi bakteri, tetapi juga respons imun tubuh yang berlebihan terhadap toksin tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejarah mencatat, demam scarlet pernah menjadi salah satu penyebab utama kematian anak di Eropa dan Amerika Utara pada abad ke-18 hingga ke-19. Dalam periode tersebut, wabah besar kerap terjadi dengan tingkat kematian mencapai 15 hingga 25 persen pada anak-anak yang terinfeksi.
Kota-kota industri seperti London dan Boston menjadi pusat penyebaran penyakit. Kepadatan penduduk, buruknya sanitasi, serta minimnya pemahaman medis mempercepat laju infeksi. Rumah sakit kewalahan, dan tidak sedikit keluarga kehilangan lebih dari satu anak dalam satu gelombang wabah.
Penurunan Misterius sebelum Antibiotik
Menariknya, memasuki awal abad ke-20, angka kematian akibat demam scarlet mulai menurun bahkan sebelum antibiotik ditemukan. Fenomena ini masih menjadi bahan perdebatan di kalangan ilmuwan. Beberapa faktor yang diduga berperan antara lain perubahan genetik bakteri menjadi kurang virulen, peningkatan kualitas gizi masyarakat, serta perbaikan sanitasi lingkungan. Meski demikian, tanpa pengobatan yang efektif, penyakit ini tetap berbahaya.
Titik balik terjadi pada pertengahan abad ke-20 dengan ditemukannya antibiotik seperti penisilin. Infeksi yang sebelumnya mematikan kini dapat diobati secara efektif jika didiagnosis sejak dini. Penggunaan antibiotik secara luas menurunkan angka kematian secara drastis dan mengubah status demam scarlet dari penyakit mematikan menjadi penyakit yang dapat dikendalikan.
Pada masa sebelum antibiotik, demam scarlet tidak hanya berbahaya karena infeksi akut, tetapi juga komplikasi jangka panjang. Penyakit ini dapat berkembang menjadi Demam Rematik yang merusak jantung, serta Glomerulonefritis yang mengganggu fungsi ginjal. Selain itu, infeksi dapat menyebar ke telinga, sinus, bahkan ke seluruh tubuh dalam bentuk sepsis. Komplikasi-komplikasi inilah yang menjadikan demam scarlet sangat ditakuti dalam sejarah medis.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!