Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pemerintah Harus Antisipasi Risiko Kebocoran BBM Subsidi

📅 Senin, 20 Apr 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pemerintah Harus Antisipasi Risiko Kebocoran BBM Subsidi Doc: antara
Ket. Bhima Yudhistira A Direktur Eksekutif Celios - Jadi nanti akan berpengaruh pada pasokan solar juga. Ada kebocoran di situ, ya. Jadi pengawasan terhadap solar subsidi ini juga harus ketat.

Pemerintah perlu memperkuat sistem distribusi, pengawasan lapangan, serta memastikan subsidi tepat sasaran agar tidak membebani anggaran.

Jakarta – Indonesia perlu mengantisipasi risiko kebocoran BBM subsidi seiring meningkatnya harga BBM nonsubsidi yang mendorong pergeseran konsumsi. Tanpa pengawasan ketat, potensi penyalahgunaan solar subsidi oleh sektor industri dan pengguna non-target dapat meningkat, terutama di daerah dengan aktivitas logistik dan pertambangan tinggi.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai pemerintah perlu memperketat pengawasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi di tengah lonjakan harga BBM nonsubsidi.

Seperti dikutip dari Antara, Bhima mengatakan kenaikan harga BBM nonsubsidi merupakan hal yang wajar seiring meningkatnya harga minyak dunia dan Indonesian Crude Price (ICP). Namun, ia mengingatkan adanya dampak lanjutan yang perlu diantisipasi, terutama pada sektor industri.

“Cuma yang harus diperhatikan, misalnya, yang saya khawatir itu Pertamina Dex naiknya 60 persen, dan Pertamina Dex ini bukan cuma untuk kendaraan yang dibilang menengah ke atas, tapi juga mesin-mesin industri, alat-alat berat di sektor pertambangan, di sektor sawit itu juga banyak yang membeli Pertamina Dex,” kata Bhima di Jakarta, Minggu (19/4).

Kenaikan harga Pertamina Dex dari 14.500 menjadi 23.900 rupiah per liter dinilai berpotensi mendorong pergeseran konsumsi ke BBM subsidi, khususnya solar. Kondisi ini dikhawatirkan memicu tekanan pada pasokan dan membuka celah penyalahgunaan.

“Jadi nanti akan berpengaruh pada pasokan solar juga. Ada kebocoran di situ, ya. Jadi pengawasan terhadap solar subsidi ini juga harus ketat,” ujarnya.

Ia menekankan pengawasan perlu diperketat, terutama di luar Pulau Jawa, mengingat penggunaan solar subsidi cukup besar untuk sektor logistik hingga alat berat di industri pertambangan dan perkebunan.

Sebaiknya Anda baca juga:

“Nah ini harus ada pengetatan, jangan sampai terjadi kebocoran yang semakin masif karena pergeseran dan selisih harga yang terlalu jauh antara solar subsidi dan solar nonsubsidi,” tambah Bhima.

Selain itu, kenaikan harga BBM nonsubsidi juga diperkirakan memicu pergeseran konsumsi pada jenis bahan bakar lain. Bhima menilai konsumen Pertamax Turbo berpotensi beralih ke Pertamax yang harganya relatif lebih stabil.

“Kalau untuk Pertamax Turbo kenaikannya cukup tinggi, pasti akan berkurang konsumsinya. Tapi akan bergeser ke mana? Bergesernya ke Pertamax,” ujarnya.

Ia menilai kebijakan kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex bersifat sementara, seiring potensi penurunan harga minyak global akibat meredanya eskalasi konflik geopolitik.

Karena itu, selain pengawasan ketat, Bhima menyarankan pemerintah memberikan insentif bagi pelaku usaha yang tetap menggunakan BBM nonsubsidi agar beban biaya produksi tidak melonjak tajam.

“Kemudian juga mungkin harus diberikan semacam insentif sebagai meringankan biaya produksi karena beban biaya produksinya bisa semakin naik,” katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Daerah
Gunung Semeru Erupsi dengan...
Olahraga
Naomi Siap Hadapi Elise Mer...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.