Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Konflik Berdarah Simpanse di Afrika Ungkap Akar Alami Kekerasan Manusia

📅 Rabu, 15 Apr 2026, 07:07 WIB | Oleh:

Serangan-serangan ini tidak acak. Mereka terorganisasi, sering kali dilakukan oleh kelompok jantan yang bekerja sama, menargetkan individu yang terisolasi sebuah pola yang sangat mirip dengan taktik perang gerilya.

Mengapa “Perang” Ini Terjadi?

Para peneliti menduga konflik ini dipicu oleh runtuhnya jaringan sosial yang selama ini menjadi perekat komunitas. Beberapa faktor kunci diidentifikasi adalah ukuran kelompok yang terlalu besar, memicu tekanan internal, persaingan sumber daya, terutama makanan dan wilayah.

Lainna kompetisi dalam reproduksi, antar jantan dominan, perubahan kepemimpinan (alpha male), dan kematian individu penghubung, yang sebelumnya menjaga relasi antar kelompok. Ketika individu-individu “jembatan” ini hilang akibat penyakit atau faktor lain hubungan antar subkelompok menjadi rapuh, membuka jalan bagi konflik.

Mengulang Sejarah yang Pernah Terjadi

Peristiwa ini mengingatkan pada konflik serupa di Gombe National Park pada 1970-an, yang diamati oleh Jane Goodall. Dalam kasus tersebut, satu kelompok simpanse terpecah dan kemudian membantai kelompok lainnya.

Namun, studi di Gombe sempat diperdebatkan karena adanya intervensi manusia seperti pemberian makanan yang dianggap mungkin memengaruhi perilaku simpanse.

Sedangkan Kasus Ngogo disebut berbeda.

Lingkungan di Kibale relatif alami, tanpa intervensi signifikan manusia.

Hal ini membuat para ilmuwan semakin yakin bahwa fenomena “perang saudara” ini merupakan bagian dari perilaku alami simpanse. “Ini adalah bukti paling kuat bahwa konflik seperti ini benar-benar terjadi secara alami,” kata Sandel.

Cermin bagi Manusia?

Temuan ini tidak hanya penting bagi studi primata, tetapi juga membuka pertanyaan besar tentang manusia itu sendiri.

Selama ini, banyak teori menyebut bahwa perang manusia dipicu oleh perbedaan budaya bahasa, agama, atau etnis. Namun studi ini menunjukkan kemungkinan lain: konflik bisa muncul dari runtuhnya jaringan sosial yang menghubungkan kelompok-kelompok berbeda.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.