Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Konflik Berdarah Simpanse di Afrika Ungkap Akar Alami Kekerasan Manusia

📅 Rabu, 15 Apr 2026, 07:07 WIB | Oleh:
Konflik Berdarah Simpanse di Afrika Ungkap Akar Alami Kekerasan Manusia Doc: Guerchom Ndebo/AFP/Getty Images
Ket. Tanpa menyentuh, seorang pengasuh bermain dengan seekor simpanse di Pusat Rehabilitasi Primata Lwiro di Republik Demokratik Kongo.

DI KEDALAMAN hutan tropis Afrika pernah terjadi perang berkepanjangan. Sebuah konflik berdarah yang menyerupai perang saudara ini tapi bukan dilakukan oleh manusia melainkan di dalam komunitas simpanse terbesar yang pernah diamati ilmuwan.

Sekitar 200 individu simpanse di Kibale National Park, yang selama puluhan tahun hidup dalam satu komunitas besar bernama Ngogo. Namun kelompok ini terpecah menjadi dua faksi yang saling bermusuhan.  Lebih dari sekadar konflik sosial biasa, perpecahan ini berubah menjadi rangkaian serangan mematikan yang mengingatkan pada dinamika perang dalam sejarah manusia.

Temuan ini yang dipublikasikan dalam jurnal Science, membuka jendela baru dalam memahami akar kekerasan sosial baik pada primata maupun manusia. Hal ini telah menjadi perdebatan panjang di kalangan sejarawan, psikolog, dan antropolog.

Harmoni ke Perpecahan

Selama lebih dari dua dekade sejak 1995, para peneliti mengamati kehidupan sosial simpanse Ngogo yang relatif stabil. Dalam komunitas besar ini, individu-individu bebas berpindah kelompok, berbagi wilayah, bahkan kawin lintas subkelompok.

Dua kelompok utama yang kemudian dikenal sebagai kelompok Tengah dan Barat awalnya bukanlah entitas yang terpisah secara tegas. Mereka lebih menyerupai jaringan sosial cair, di mana hubungan dibangun melalui aliansi, kekerabatan, dan interaksi sehari-hari.

Namun semua berubah pada 24 Juni 2015. Hari itu, Aaron Sandel dari University of Texas at Austin menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sekelompok simpanse Barat mendekati kelompok Tengah, situasi yang biasanya berakhir damai. Namun kali ini, suasana berubah tegang. Tanpa suara, kelompok Barat mundur, lalu melarikan diri. Kelompok Tengah mengejar.

“Itu bukan interaksi biasa. Tidak ada yang pernah melihat hal seperti ini sebelumnya,” ujar Sandel.

Bahkan Joahn Mitani dari University of Michigan, yang telah puluhan tahun mempelajari simpanse, dibuat terkejut oleh insiden tersebut.

Garis Batas

Sejak peristiwa itu, retakan sosial semakin melebar. Pada 2017, kedua kelompok telah sepenuhnya terpisah—baik secara geografis maupun sosial. Mereka tidak lagi berbagi wilayah, melainkan mulai membangun batas teritorial yang dijaga ketat.

Patroli perbatasan menjadi rutinitas. Setiap pertemuan berubah menjadi potensi konflik.

Puncaknya terjadi pada 2018, ketika kekerasan mematikan pertama kali tercatat.

Dalam periode 2018 hingga 2024, kelompok Barat diketahui membunuh sedikitnya tujuh jantan dewasa dan 17 bayi dari kelompok Tengah. Selain itu, 14 jantan remaja dan dewasa dari kelompok Tengah menghilang tanpa jejakkemungkinan besar menjadi korban serangan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Pilpres Kolombia Diinterven...
Ekonomi
Kuartal I, Hilirisasi Nikel...
Luar Negeri
PBB Mendesak Transpransi Je...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Pemprov Jabar Tolak Status Darurat Sampah, Pemkot Bandung Siapkan Opsi Alternatif Ini

Pemprov Jabar Tolak Status Darurat Sampah, Pemkot Bandung Siapkan Opsi Alternatif Ini

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.