Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Indonesia Adopsi “Waste to Energy” ketimbang Inisiatif Lokal

📅 Rabu, 15 Apr 2026, 09:38 WIB | Oleh:

Kritik lembaga lingkungan, yakni Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) terhadap proyek WTE atau PSEL. Walhi mengeluarkan semacam komunike “PSEL Solusi Palsu yang Mengancam” (3/3/2026).

PSEL: Solusi atau Produsen Polusi. Di tengah krisis sampah yang kian menyesakkan, proyek PSEL hadir menawarkan janji manis sebagai solusi instan. Sebagai solusi palsu yang memaksa teknologi gagal untuk membakar sampah kita yang 54–55% diantaranya adalah sampah organik.

Mengapa PSEL aalah Diskoneksi Fundamental? Teknologi PSEL butuh sampah kering dan bernilai kalor tinggi seperti plastik untuk beroperasi efesien. Faktanya, sampah nasional kita didominasi sisa sampah makanan (39,7%). Ini bukan inovasi, ini adalah pemaksaan teknologi yang tidak cocok dengan realitas lokal.

Membakar Masalah, Melepas Racun Karsinogen! Pembakaran sampah melepas Dioksin dan Furan, senyawa kimia paling toksit yang merusak hormon dan memicu kanker. Di Eropa saja, kadar dioksin 10 kali lipat batas legal! Setiap 1 ton sampah yang dibakar melapaskan hingga 1,7 ton CO2. PSEL bukan solusi iklim, tetapi bom waktu emisi.

PSEL menciptakan Lock-in Effect. Pemda dipaksa kontrak 20-30 tahun untuk menjamin pasokan minimal 1.000 ton sampah per hari. Jika warga mulai rajin memilah dan sampah berkurang, Pemda justru harus membayar denda kepada operator swasta! Biaya operasionalnya mencapai Rp2 triliun per tahun. Ini adalah subsidi terselubung untuk korporasi di atas penderitaan APBD.

PSEL butuh sampah bernilai untuk dibakar, artinya ia marampas rezeki jutaan pemulung dan pekerja bank sampah yang selama ini mengelola daur ulang secara manual. PSEL menghancurkan sistem ekonomi sirkular demi keuntungan segelintir pemilik modal. Tanpa transisi yang adil, jutaan orang kehilangan hak atas pekerjaan yang layak.

Solusi sejati bukan di ujung cerobong, tapi di sumberdayanya! Kita butuh Zero Waste Cities: pemilahan sampah organik untuk kompos dan pelarangan plastik sekali pakai secara tegas.

Desak pemerintah untuk mencabut status PSN proyek PSEL dan alihkan anggaran mahal itu untuk infastruktur pengelolaan sampah berbasis komunitas!

Pandangan lembaga dan aktivis lingkungan itu sebenarnya pembelaan terhadap pelaku circular economy aras bawah dan masa depan lingkungan yang lebih baik. Sebaiknya pandangan tersebut menjadi perhatian tersendiri.

Dalam pengelolaan sampah butuh inisiatif lokal, lebih baik me-recovery ketimbang merusak secara teknis, open all decision on waste management to full public participation and transparency at every level stage of the process, prioritize waste reduction and prevention techniques, dan lainya yang lebih murah.

*Bagong Suyoto, Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas)

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Ekonomi
Neraca perdagangan Indonesi...
Nasional
Presiden Prabowo lantik Wan...
Olahraga
Fitriani/Fadona melaju ke f...
Advertisement
Data Center AI Jatiluhur Ternyata Tanpa Amdal! KDM Setop Pembangunannya

Data Center AI Jatiluhur Ternyata Tanpa Amdal! KDM Setop Pembangunannya

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.