Ekonomi RI Diramal Meroket 5,5 Persen, Airlangga Hartarto Ungkap 'Senjata Rahasia' Pemerintah
📅 Jumat, 10 Apr 2026, 01:35 WIB | Oleh: AlfredJAKARTA - Pemerintah menyatakan optimismenya terhadap ketangguhan ekonomi nasional dengan mematok target pertumbuhan sebesar 5,5 persen pada kuartal I 2026. Meski dinamika global masih dibayangi ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, kuatnya fundamental domestik yang ditopang konsumsi rumah tangga diyakini mampu menjadi motor penggerak utama.
“Untuk kuartal pertama kita optimistis lebih besar atau sama dengan 5,5 persen. Kemudian kalau di akhir tahun lebih besar sama dengan 5,4 persen sesuai dengan perkiraan APBN,” ujar Airlangga saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan proyeksi tersebut masih sangat bergantung pada dinamika global yang saat ini masih diliputi ketidakpastian.
Pemerintah akan terus menyesuaikan kebijakan ekonomi dengan perkembangan global, termasuk dampak konflik Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas harga energi dan rantai pasok.
Meski demikian, lanjut Airlangga, pemerintah tetap mempertahankan baseline pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 5,4 persen sebagaimana dipatok dalam APBN.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lebih lanjut, dirinya merinci asumsi tersebut juga mempertimbangkan fluktuasi harga minyak dunia. Ia menyebutkan rata-rata harga minyak yang dibeli Indonesia berada di kisaran 76 dolar AS per barel.
"Setiap 1 dolar kenaikan BBM kan kira-kira dampaknya terhadap APBN sekitar Rp6 triliun lebih sedikit. Nett ya antara gaining export komoditas yang harga tinggi dikurangi dengan jumlah subsidi itu kira-kira Rp6 triliun. Jadi kalau angka-angka seperti itu masih bisa di absorb oleh APBN," jelasnya.
Adapun usai Rapat Kerja Pemerintah di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (8/4), Menko menyampaikan bahwa optimisme pertumbuhan ekonomi didukung oleh kuatnya fundamental domestik, khususnya konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 54 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari sisi fiskal, kinerja APBN hingga kuartal I 2026 juga menunjukkan tren positif. Penerimaan pajak hingga Maret tercatat meningkat 14,3 persen menjadi sekitar Rp462,7 triliun, sementara sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi.
Selain itu, ketahanan pangan nasional dinilai tetap terjaga. Produksi beras pada 2025 mencapai 34,7 juta ton, dengan stok beras Perum Bulog saat ini sekitar 4,6 juta ton.
Pemerintah juga terus menyiapkan kebijakan strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan dan stabilitas ekonomi, salah satunya melalui implementasi program biodiesel B50 yang mulai berlaku 1 Juli 2026.
“Kebijakan B50 diperkirakan memberikan penghematan anggaran hingga Rp48 triliun,” kata Airlangga.
Di sisi lain, pemerintah berkomitmen menjaga disiplin fiskal, termasuk mempertahankan rasio utang di level 40 persen terhadap PDB, di bawah batas maksimal undang-undang sebesar 60 persen.
Selain itu, defisit anggaran juga ditargetkan tetap terjaga di kisaran 3 persen hingga akhir tahun.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!