Rinjani Menyulam Langkah Wisatawan
📅 Selasa, 31 Mar 2026, 16:32 WIB | Oleh: SujarShelter ini akan berfungsi sebagai titik pengumpulan sementara sampah, memudahkan pengelolaan, bahkan berpotensi menggunakan drone untuk menurunkan sampah dari jalur sulit.
Langkah ini sekaligus mengingatkan bahwa pendakian modern tidak bisa hanya mengandalkan kesadaran individu, tetapi harus disertai fasilitas dan regulasi yang memadai.
Penerapan sanksi tegas serta pemeriksaan barang bawaan pendaki juga menjadi bagian dari strategi untuk menekan perilaku buruk yang merusak ekosistem.
Selain pengelolaan sampah, aspek keselamatan menjadi prioritas. Program Rinjani 7.0, misalnya, menghadirkan tujuh inovasi berbasis data dan teknologi, mulai dari alat pelacak pendaki, komunikasi terpadu di seluruh kawasan, hingga pusat komando untuk memantau jalur pendakian.
Sebaiknya Anda baca juga:
Survei jalur pendakian Sembalun, Torean, dan Senaru memastikan sarana pendukung seperti railing, titik rawan, dan sumber air tertata dengan baik.
Langkah ini menegaskan bahwa pengelolaan pendakian modern harus berbasis data, bukan asumsi, sehingga keselamatan dan kenyamanan pendaki menjadi tidak sekadar janji, tetapi realitas di lapangan.
Upaya penguatan regulasi dan inovasi teknologi ini sekaligus menegaskan bahwa ekowisata dapat berkembang tanpa mengorbankan konservasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perda Penyelenggaraan Kepariwisataan Lombok Timur menjadi contoh konkret bagaimana pengembangan pariwisata harus berpijak pada kelestarian lingkungan, kearifan lokal, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Aktivitas budaya adat, potensi religi, dan destinasi alam pun bisa terintegrasi menjadi pengalaman wisata yang edukatif dan memberdayakan masyarakat.
Wisata berkelanjutan
Pendakian Gunung Rinjani yang dibuka kembali pada 1 April 2026 menjadi momentum penting. Lonjakan minat wisatawan menunjukkan kerinduan mereka setelah penutupan jalur tiga bulan untuk pemulihan ekosistem dan faktor keselamatan.
Namun, lonjakan ini menuntut pengelolaan terencana, mulai dari pemesanan tiket elektronik melalui aplikasi E-Rinjani, pelatihan fisik bagi pendaki pemula, hingga sistem pengawasan berbasis teknologi. Dengan demikian, pendakian menjadi pengalaman yang aman, nyaman, dan tetap menghormati alam.
Ke depan, wisata Rinjani bisa dikembangkan lebih inklusif dengan mengintegrasikan teknologi, budaya, dan ekonomi lokal. Pembangunan shelter sampah, pengelolaan jalur pendakian berbasis data, dan fasilitas keluarga bukan sekadar inovasi, tetapi strategi untuk membangun ekowisata berkelanjutan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!