Lebaran Topat di NTB: Tradisi Unik Penutup Idul Fitri yang Penuh Kebersamaan
📅 Minggu, 29 Mar 2026, 11:10 WIB | Oleh: Yebdi TrismarLebaran Topat di Nusa Tenggara Barat (NTB) selalu datang dengan cara yang khas. Ia tidak sekadar menjadi penutup rangkaian Idul Fitri, tetapi juga membuka ruang baru bagi masyarakat untuk merayakan kebersamaan dalam bentuk yang lebih cair dan membumi.
Pada Sabtu, 28 Maret 2026, denyut itu terasa semakin kuat di Kota Mataram, Lombok Barat, dan Lombok Tengah. Ribuan orang bergerak menuju pantai, makam keramat, hingga ruang-ruang publik, membawa ketupat sebagai simbol sekaligus medium perjumpaan sosial.
Di tengah suasana itu, Lebaran Topat tidak lagi berdiri sebagai ritual lokal semata. Ia bergerak menjadi peristiwa sosial, budaya, sekaligus ekonomi.
Ketika masyarakat berkumpul di Loang Baloq dan Bintaro di Mataram, di Senggigi di Lombok Barat, atau di Bencingah Agung Lombok Tengah, terlihat bagaimana tradisi ini terus beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan akar.
Momentum ini penting untuk ditelaah karena Lebaran Topat kini berada di persimpangan. Ia berpotensi menjadi kekuatan besar bagi pariwisata daerah, tetapi juga menghadapi tantangan dalam menjaga makna dan keberlanjutannya di tengah arus komersialisasi dan lonjakan kunjungan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tradisi sosial
Lebaran Topat berakar pada praktik keagamaan yang sederhana, yakni perayaan setelah menjalani puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Namun dalam perkembangannya, tradisi ini menjelma menjadi ruang sosial yang lebih luas.
Ziarah ke makam ulama, doa bersama, hingga makan bersama atau begibung menjadi rangkaian yang mengikat masyarakat dalam satu ritme kebersamaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di Mataram, misalnya, perayaan yang dipusatkan di dua titik utama menghadirkan lanskap sosial yang unik. Ribuan warga tidak hanya datang untuk beribadah, tetapi juga untuk bersilaturahmi lintas keluarga, generasi, bahkan latar belakang sosial.
Tradisi ngurisan atau cukur rambut bayi menjadi simbol keberlanjutan nilai, sementara aktivitas makan bersama menjadi ekspresi kesetaraan.
Hal serupa juga terlihat di Lombok Barat. Kawasan Senggigi yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata, berubah menjadi ruang budaya terbuka. Ketupat tidak hanya menjadi makanan, tetapi simbol filosofis tentang kesempurnaan ibadah, keikhlasan berbagi, dan kembalinya manusia pada kesucian. Nilai ini memperkuat identitas kolektif masyarakat Sasak.
Di Lombok Tengah, meski dikemas lebih sederhana, Lebaran Topat tetap mempertahankan esensi spiritual dan sosialnya. Kegiatan pengajian, santunan anak yatim, dan doa bersama menunjukkan bahwa tradisi ini tidak kehilangan ruhnya, meski skala perayaannya berbeda.
Dari ketiga wilayah tersebut, tampak satu benang merah. Lebaran Topat adalah ruang perjumpaan. Ia menghadirkan interaksi sosial yang semakin langka di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistik.
Dalam konteks ini, Lebaran Topat memiliki nilai strategis sebagai penopang kesehatan sosial masyarakat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (3)
29 Mar 2026, 11:24 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
Balas29 Mar 2026, 11:38 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
Balas29 Mar 2026, 11:38 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
BalasSilakan login via Google untuk dapat memberi komentar!