Konsumsi Domestik Bantalan untuk Menghadapi Gejolak Global
📅 Selasa, 03 Mar 2026, 01:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebutkan perang antara Amerika Serikat (AS) bersama Israel melawan Iran berpotensi menekan sejumlah sektor perdagangan Indonesia, terutama yang berkaitan langsung dengan energi dan biaya logistik.
Dalam keterangannya di Jakarta, Senin (2/3), Mendag mengatakan bahwa manufaktur menjadi salah satu yang paling rentan. Apalagi Indonesia dalam pengolahan masih bergantung pada energi yang dipenuhi dengan impor, sehingga biaya operasional meningkat.
Selain itu, ongkos produksi yang meningkat dinilai berisiko menekan margin usaha atau mendorong kenaikan harga barang. Kondisi itu berpotensi menurunkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Lebih lanjut, ekspor jelasnya akan menghadapi tekanan ganda, yakni kenaikan biaya produksi dan pelemahan permintaan global akibat ketidakpastian ekonomi.
“Ekspor kita juga pasti cost-nya menjadi naik. Artinya, kita dan negara lain juga semua terdampak. Negara lain yang butuh bahan baku juga terdampak, yang barang menjadi juga terdampak,” jelas Budi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk menghadapi risiko tersebut, kata Budi, pemerintah menekankan pentingnya menjaga sektor perdagangan dalam negeri. Konsumsi domestik yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi dinilai sebagai bantalan untuk menghadapi gejolak global.
Pemerintah akan memaksimalkan stimulus dan mendorong kolaborasi dengan swasta untuk menjaga daya beli masyarakat, sehingga sektor perdagangan domestik tetap bergerak meski tekanan global meningkat. Selanjutnya, pemerintah juga fokus pada penguatan pasar dalam negeri dan diversifikasi ekspor.
Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko menegaskan salah satu solusi adalah subsidi bahan bakar minyak (BBM) industri manufaktur ditambah agar bisa bertahan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kondisi tersebut memang membuat pengelolaan APBN dilematis, karena akan sulit meningkatkan pajak. Di sisi lain menambah pengeluaran subsidi harus menambah utang.
“Peningkatan ini berdampak domino pada kenaikan harga jual barang jadi, peningkatan biaya overhead pabrik, dan potensi penurunan produksi. Kalau meluas perang di Timur Tengah dampaknya lebih besar lagi,” kata Suhartoko.
Rentan Gejolak Geopolitik
Sementara itu, peneliti Mubyarto Institue, Awan Santosa mengatakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang diikuti harga komoditi lain sebagai imbas penutupan Selat Hormuz dapat memperlebar defisit APBN.
Fenomena itu makin rumit apalagi RI merupakan negara net importir. Jika dulu tahun 1997 masih sebagai eksportir minyak kini sebagian besar pasokan minyak dari luar.
Saat ini produksi minyak RI hanya 580 ribu barel per hari (bph), namun kebutuhan BBM mencapai 1,6 juta bph. Dampaknya Indonesia harus mengimpor BBM sekitar 1 juta bph.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!