Takjil dan Jajanan Masuk Radar Pantauan, BPOM Perketat Pengawasan Pangan di Palu Selama Ramadhan
📅 Kamis, 19 Feb 2026, 05:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Istimewa.
PALU – Pengawasan keamanan pangan selama bulan Ramadhan jadi hal yang nggak bisa dianggap sepele. Di momen ini, aktivitas jual beli makanan meningkat tajam, mulai dari takjil dadakan sampai pasar kaget yang ramai menjelang berbuka.
Tingginya permintaan sering kali bikin produksi dipacu cepat, dan di sinilah risiko kelalaian bisa muncul—mulai dari bahan baku yang kurang segar hingga penggunaan zat berbahaya.
Karena itu, kehadiran pengawasan bukan untuk mempersulit pedagang, tapi memastikan masyarakat bisa berbuka dengan aman dan tenang. Ramadhan seharusnya jadi momen penuh berkah, bukan malah dibayangi kekhawatiran soal kualitas makanan.
Dengan pengawasan yang konsisten dan kesadaran bersama antara pedagang dan konsumen, keamanan pangan bisa tetap terjaga tanpa mengurangi semarak suasana bulan suci.
Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mulai mengintensifkan pengawasan keamanan pangan selama bulan Ramadhan 1447 Hijriah/2026 di Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Langkah ini untuk memastikan peredaran bahan pangan yang ada aman dikonsumsi masyarakat," kata Kepala BPOM Palu Mardianto di Palu, Rabu (18/2).
Ia mengemukakan pengawasan dilakukan pihaknya menyasar area gudang penyimpanan dan etalase penjualan di salah satu swalayan di ibu kota Sulawesi Tengah.
Pada pengawasan bahan pangan, petugas BPOM memeriksa berbagai aspek penting yang berkaitan dengan keamanan dan mutu produk, tidak hanya dari sisi administrasi seperti izin edar dan masa kedaluwarsa, tetapi juga dari sisi teknis penyimpanan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selama Ramadhan kegiatan seperti itu difokuskan pada sistem penyimpanan dan rantai distribusi produk pangan, mulai dari hulu hingga hilir, selain itu cuaca panas di wilayah Kota Palu menjadi perhatian khusus karena dapat memengaruhi kualitas produk apabila tidak disimpan sesuai standar.
“Fokus kami ke sarana peredaran mulai dari hulu ataupun rantai pasok, yaitu importir, distributor, grosir, termasuk juga supermarket, pasar tradisional, hingga pembuat parsel," ujarnya.
Ia menjelaskan kesalahan dalam sistem penyimpanan seperti suhu ruangan yang tidak terkontrol atau gudang yang lembab, dapat mempercepat penurunan mutu produk meskipun masa kedaluwarsa masih panjang.
Oleh karena itu BPOM memberikan penekanan pentingnya pencatatan suhu secara berkala, penataan barang sesuai standar first in first out (FIFO), dan ketersediaan sistem pengendalian hama yang memadai.
Selain itu petugas juga menelusuri kondisi fisik kemasan produk, memastikan tidak ada kemasan penyok, bocor, atau rusak yang berpotensi menurunkan kualitas isi dalam produk makanan.
"Produk tanpa izin edar, produk rusak, maupun pangan kedaluwarsa juga menjadi sasaran utama dalam pengawasan tersebut. Kami juga melakukan pengawasan terhadap rantai pasok baik itu importir, distributor maupun grosir, hingga pasar tradisional dan perdagangan daring," tutur Mardianto.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!