Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Seorang Napi di Thailand Meninggal Akibat Terinfeksi Mpox

📅 Senin, 16 Feb 2026, 10:45 WIB | Oleh:
Seorang Napi di Thailand Meninggal Akibat Terinfeksi Mpox Doc: The Straits Times
Ket. Ilustrasi - Meskipun mpox tidak mudah menular, Departemen Pelayanan Kesehatan Thailand menegaskan kembali masyarakat harus tetap waspada dan tidak panik.

BANGKOK – Seorang narapidana pria berusia 44 tahun di Thailand meninggal dunia akibat penyakit cacar mpox, demikian pernyataan Departemen Pengendalian Penyakit negara tersebut pada Minggu (15/2).

Menurut laporan The Straits Times, pasien tersebut memiliki beberapa penyakit penyerta, termasuk infeksi HIV, serta hepatitis B, hepatitis C, dan sifilis, dan tidak melanjutkan pengobatan, sehingga mengakibatkan imunodefisiensi yang parah.

Ia diyakini telah meninggal beberapa hari sebelumnya.

Departemen Pengendalian Penyakit bekerja sama dengan Departemen Pemasyarakatan dan lembaga terkait lainnya segera menerapkan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian penyakit, mengingat sifat kasus yang luar biasa parah, dan menetapkan langkah-langkah pengawasan yang sesuai.

Nattapong Wongwiwat, Direktur Jenderal Departemen Pelayanan Kesehatan Thailand, mengatakan mpox adalah penyakit menular yang dapat menyebar dari hewan ke manusia dan dari orang ke orang melalui kontak dekat, cairan tubuh, atau lesi berisi nanah dari orang yang terinfeksi.

Sebagian besar kasus sembuh dengan sendirinya dalam dua hingga empat minggu, tetapi penyakit ini dapat menjadi parah pada anak-anak dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Termasuk individu yang hidup dengan HIV dan kekebalan tubuh rendah, pasien kanker, penerima transplantasi organ, dan anak-anak di bawah usia delapan tahun.

Mpox adalah penyakit yang dapat disembuhkan sepenuhnya, dan masa inkubasinya antara lima hingga 21 hari.

Gejala utamanya meliputi demam, nyeri badan, pembengkakan kelenjar getah bening, dan ruam berisi nanah di tubuh.

Pasien dapat menularkan virus sejak tahap awal ketika demam dimulai, tetapi tahap ruam seringkali merupakan saat penularan paling tinggi.

Ruam biasanya berkembang melalui tahap-tahap ini: benjolan merah yang menonjol, kemudian lepuh berisi cairan bening, diikuti oleh lesi berisi nanah dan akhirnya kerak.

Ruam sering ditemukan di wajah, telapak tangan, dan telapak kaki, tetapi juga dapat muncul di tempat lain, seperti mulut dan alat kelamin.

Diagnosis mpox dilakukan menggunakan pengujian reaksi berantai polimerase waktu nyata (real-time polymerase chain reaction) dari cairan lepuh kulit, spesimen tenggorokan, atau darah.

Pada pasien dengan gejala ringan, saat ini belum ada pengobatan antivirus spesifik; Perawatan terutama bersifat suportif, seperti obat penurun demam dan menjaga kebersihan kulit.

Untuk pasien dengan gangguan imun yang mengalami gejala berat, rawat inap di rumah sakit bergantung pada penilaian klinis dokter.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
Advertisement
Trump Desak Zelensky Mundur di Tengah Serangan Russia yang Tewaskan 21 Orang

Trump Desak Zelensky Mundur di Tengah Serangan Russia yang Tewaskan 21 Orang

11 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.