Mentan Amran Ultimatum Importir Pakan: Mainkan Harga, Izin Dicabut Selamanya!
📅 Selasa, 11 Agu 2026, 21:45 WIB | Oleh: Tim RedaksiSURABAYA— Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman memberikan peringatan keras kepada importir pakan yang diduga memainkan harga dan mengambil keuntungan di tengah tekanan yang dihadapi peternak rakyat.
Pemerintah memastikan tidak akan memberi ruang bagi praktik yang berpotensi menekan biaya produksi peternak, bahkan Mentan Amran menegaskan izin impor akan dicabut apabila pelanggaran terbukti.
Peringatan tersebut disampaikan Mentan Amran dalam Rapat Koordinasi Perunggasan di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (11/8), setelah sebelumnya menerima aspirasi peternak dari sejumlah daerah mengenai tingginya harga pakan. Menurutnya, pemerintah harus memastikan tata niaga pakan berjalan sehat karena komponen tersebut sangat menentukan keberlangsungan usaha jutaan peternak ayam di Indonesia.
Mentan Amran mengatakan pemerintah telah meminta Satuan Tugas (Satgas) Pangan untuk memeriksa salah satu perusahaan yang diduga mempermainkan harga pakan. Pemeriksaan tersebut akan dilakukan mulai Rabu (12/8) untuk memastikan apakah terdapat pelanggaran dalam mekanisme penetapan dan perdagangan harga pakan di lapangan.
“Ada satu perusahaan, diduga nakal. Satgas Pangan, kami minta dengan tegas langsung diperiksa, insyaallah mulai besok. Karena diduga mereka mempermainkan harga. Perusahaannya saya tidak sebut, tapi insyaallah mulai besok dari Satgas Mabes Polri mulai periksa. Kalau terbukti, izinnya saya cabut,” kata Mentan Amran melalui keterangannya dari Surabaya, Jawa Timur, Selasa (11/8).
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menegaskan pemerintah tidak akan melakukan intervensi secara serampangan terhadap pelaku usaha, namun akan bertindak tegas apabila hasil pemeriksaan menemukan adanya pelanggaran. Menurutnya, penegakan aturan menjadi penting agar keuntungan usaha tidak dibangun dengan membebankan biaya yang tidak wajar kepada peternak kecil.
“Jangan ada bermain-main, kami pasti cabut izinnya. Kami tidak beri ruang. Kalau kami sekali cabut, selama kami masih menjabat tidak akan kami berikan izin impor,” tegas Mentan Amran.
Ia menjelaskan, pemerintah berada di tengah antara kepentingan pelaku usaha dan peternak. Pemerintah tetap membutuhkan dunia usaha yang sehat untuk menjaga keberlanjutan industri perunggasan, tetapi pada saat yang sama tidak boleh membiarkan terdapat pihak yang mengambil keuntungan berlebihan sementara peternak rakyat menanggung tekanan biaya produksi.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Itu masalah harga pakan dinaikkan, padahal izinnya di Kementerian Pertanian. Nah, dia (importir) yang dapat untung, kami yang dibully. Ini dosa apa? Jadi, enggak boleh. Kami ini di tengah. Kami sayang pengusaha, kami sayang peternak kecil. Kami di tengah, bagaimana tumbuh bersama,” ujar Mentan Amran.
Mentan Amran menegaskan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga keberlangsungan usaha sekitar 3,8 juta peternak. Ia tidak ingin tekanan harga pakan terus berlangsung dan membuat peternak kecil berada dalam posisi yang semakin sulit.
“Ini 3,8 juta peternak kita harus jaga. Apa mau biarkan mereka berteriak tiap hari? Dan itu tugas kami,” tegasnya.
Karena itu, Mentan Amran memastikan pengawasan terhadap tata niaga pakan akan diperkuat, khususnya terhadap pelaku usaha yang diduga melakukan penekanan atau permainan harga. Pemeriksaan tidak hanya diarahkan untuk melihat perbedaan harga di tingkat pemerintah dan lapangan, tetapi juga menelusuri apakah terdapat unsur pelanggaran administrasi, praktik monopoli, maupun tindak pidana.
Selain menindak dugaan permainan harga, pemerintah juga memastikan kebijakan pengendalian biaya produksi tetap berjalan. Harga pakan melalui skema Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang disalurkan Bulog dipastikan berlanjut hingga akhir tahun sehingga peternak memiliki kepastian dalam menjalankan usahanya.
Pengendalian harga pakan harus berjalan beriringan dengan kepastian harga telur di tingkat peternak. Pemerintah tidak ingin kebijakan hanya menyelesaikan persoalan di satu sisi, sementara peternak tetap tertekan dari sisi biaya produksi maupun pemasaran hasil ternaknya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!