Waspada Inflasi Pangan Jelang Ramadan dan Lebaran
📅 Selasa, 03 Feb 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: antara
Kebijakan harga perlu disesuaikan secara fleksibel dengan mempertimbangkan faktor musiman agar tidak menimbulkan kelangkaan di pasar.
Jakarta – Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, potensi inflasi pangan kembali menjadi perhatian utama. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menilai pengendalian inflasi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah perlu menempatkan perhatian khusus pada komoditas pangan nonberas, terutama hortikultura seperti bawang dan cabai.
Seperti dikutip dari Antara, menurut Faisal, kedua komoditas tersebut hampir selalu mengalami lonjakan harga pada periode musiman Ramadhan dan Lebaran sehingga kerap menjadi penyumbang inflasi terbesar. Karena itu, pengawasan harga dan pasokan perlu dilakukan secara lebih intensif.
“Maka perlu dilakukan pemantauan dari jalur distribusi, operasi pasar, dan memantau dari sisi harga,” kata Faisal di Jakarta, Senin (2/2).
Ia menambahkan, peran Perum Bulog perlu diperkuat pada momen-momen rawan inflasi tersebut. Bulog, kata dia, tidak hanya berfungsi menjaga stabilitas harga beras, tetapi juga dapat berperan dalam menjaga pasokan pangan lain yang berpotensi memicu inflasi, khususnya hortikultura.
Sebaiknya Anda baca juga:
Faisal menjelaskan, secara musiman inflasi pada awal tahun cenderung melemah setelah momentum Natal dan Tahun Baru. Pada Januari 2026, inflasi bahkan tercatat melemah dan mengalami deflasi sebesar 0,15 persen dibandingkan Desember 2025.
“Setelah deflasi Januari, kemungkinan besar inflasi akan kembali naik di Februari dan Maret, dengan puncaknya pada Lebaran,” ujarnya.
Panen raya yang diperkirakan terjadi pada Februari hingga April diproyeksikan menambah pasokan beras di pasar sehingga dapat membantu meredam tekanan inflasi. Namun, komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang tetap harus menjadi perhatian utama karena harganya cenderung melonjak selama Ramadhan hingga Lebaran.
Sebaiknya Anda baca juga:
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pada Januari 2026 terjadi deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Namun, secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi masih tercatat sebesar 3,55 persen.
Deflasi Januari 2026 terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil deflasi sebesar 0,30 persen. Komoditas utama penyumbang deflasi pada kelompok tersebut antara lain cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.
Sementara itu, inflasi tahunan terbesar berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan andil inflasi sebesar 1,72 persen.
Tingkatkan Suplai
Secara terpisah, Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menilai kenaikan harga bahan pangan menjelang Ramadhan dan Lebaran dapat diredam dengan memperlancar distribusi dan meningkatkan suplai.
“Jika ingin meredam kenaikan harga bahan pangan maka harus melakukan upaya memperlancar distribusi bahan pangan dari hulu sampai konsumen, serta meningkatkan suplai bahan pangan melalui peningkatan produksi dan operasi pasar,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!