Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Gawat, 40% Organisasi Indonesia Berisiko Kehilangan Nilai akibat Utang Infrastruktur AI

📅 Kamis, 29 Jan 2026, 20:48 WIB | Oleh:
Gawat, 40% Organisasi Indonesia Berisiko Kehilangan Nilai akibat Utang Infrastruktur AI Doc: Cisco
Ket. Cin Cin Go, Managing Director Cisco Indonesia dalam ajang Cisco Connect Indonesia 2026 yang digelar di Jakarta pada hari Rabu (28/1).

JAKARTA — Dalam ajang Cisco Connect Indonesia 2026 yang digelar hari ini, para pemimpin industri, pakar teknologi, serta Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria di Jakarta pada hari Rabu (28/1) berkumpul untuk membahas masa depan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia serta langkah strategis untuk memaksimalkan nilai bisnis dari teknologi tersebut.

Acara ini menjadi momentum peluncuran temuan terbaru Cisco melalui AI Readiness Index 2025, yang mengungkap bahwa 40% organisasi di Indonesia berisiko kehilangan nilai akibat ancaman “AI Infrastructure Debt” atau utang infrastruktur AI.

Riset AI Readiness Index menunjukkan tingkat kesiapan organisasi yang beragam. Secara global, hanya sekitar 13% perusahaan yang tergolong sebagai AI Pacesetters, yakni kelompok terdepan yang telah mengambil keputusan infrastruktur fundamental untuk menciptakan keunggulan berkelanjutan.

Sebanyak 97% perusahaan dalam kelompok ini telah mengimplementasikan AI pada skala dan kecepatan yang memadai untuk membuka berbagai use case serta mencapai return on investment (ROI). Sebaliknya, banyak organisasi masih menghadapi risiko akibat AI Infrastructure Debt, yang berpotensi menghambat inovasi serta meningkatkan risiko operasional dan keamanan.

“Pilihan infrastruktur yang diambil perusahaan hari ini akan menentukan apa yang bisa mereka capai di masa depan. Para pemimpin AI merancang arsitektur secara berbeda dan para Pacesetters membuktikannya,” ujar Cin Cin Go, Managing Director Cisco Indonesia yang baru menjabat sejak Desember lalu melalui keterangan tertulis pada hari Rabu (28/1).

“Mereka membangun fondasi berbasis jaringan, memprioritaskan infrastruktur daya, melakukan optimalisasi berkelanjutan, serta mengintegrasikan keamanan sejak awal. Melalui Cisco Connect, kami membuka ruang bagi organisasi untuk berbagi pengalaman dan memperoleh insight praktis tentang apa yang dibutuhkan untuk menjadi AI-ready, sekaligus bersama-sama membentuk masa depan AI Indonesia,” tambahnya.

Biaya Kumulatif dari Utang Infrastruktur AI

Cisco menilai Pacesetters mampu melaju lebih cepat bukan semata karena investasi yang lebih besar, tetapi karena melakukan investasi infrastruktur lebih awal, sehingga terhindar dari AI Infrastructure Debt yang dapat menghambat inovasi serta meningkatkan risiko operasional dan keamanan.

Indeks ini juga mengidentifikasi tanda-tanda awal risiko di Indonesia. Banyak organisasi menerapkan agen AI lebih cepat dibandingkan kemampuan mereka dalam mengamankannya. Hanya 29% organisasi di Indonesia yang menilai jaringan mereka sudah optimal, sementara 43% masih kekurangan infrastruktur daya, padahal hampir separuh responden memperkirakan pertumbuhan beban kerja AI lebih dari 50%.

Empat Pilihan Arsitektur yang Membedakan Pemimpin AI

Cisco mengidentifikasi empat keputusan arsitektur utama yang membedakan pemimpin AI dari organisasi lainnya:

1. Mengantisipasi keterbatasan daya sejak dini
Lebih dari separuh organisasi di Indonesia memperkirakan lonjakan beban kerja AI dalam tiga hingga lima tahun ke depan, namun banyak yang belum memiliki infrastruktur daya yang memadai. Sebanyak 96% AI Pacesetters global telah membangun infrastruktur khusus untuk mengoptimalkan konsumsi daya, dibandingkan dengan 57% organisasi di Indonesia.

2. Menjadikan jaringan sebagai fondasi utama
Alih-alih hanya berfokus pada komputasi, Pacesetters memprioritaskan infrastruktur jaringan untuk mencegah bottleneck. Sebanyak 81% Pacesetters menilai jaringan mereka sudah optimal untuk mendukung AI, dibandingkan dengan 29% organisasi di Indonesia.

3. Menerapkan optimalisasi berkelanjutan
Pacesetters melihat implementasi model AI sebagai titik awal. Sebanyak 72% Pacesetters menerapkan pemantauan berkelanjutan dengan retraining otomatis, dibandingkan 38% organisasi di Indonesia, sehingga memungkinkan pembaruan model hampir tanpa downtime.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.00...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.