Langit dan Bumi Berikan Isyarat Alam, Jadikan Itu Sebagai Dasar Membangun Ketahanan Bersama
📅 Senin, 05 Jan 2026, 18:17 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/Shutterstock
MATARAM, NUSA TENGGARA BARAT - Di banyak wilayah rawan bencana, pagi kerap dibuka oleh isyarat alam yang datang tanpa aba-aba. Getaran halus yang menggerakkan benda di dalam rumah atau dentum petir yang membelah langit disertai hujan deras, menjadi pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan kekuatan alam yang terus bekerja.
Memasuki 2026, isyarat-isyarat ini terasa semakin dekat dalam keseharian, bukan karena bencana selalu hadir dalam skala besar, melainkan karena frekuensinya kian meningkat, datanya kian terbaca, dan peringatannya datang silih berganti.
Di Nusa Tenggara Barat (NTB), dua suara itu bukan hal asing. Getaran gempa dan kilat petir menjadi bagian dari lanskap alam yang membentuk kewaspadaan warga dari pesisir hingga pegunungan.
Sepanjang 2025, wilayah NTB diguncang 6.657 kejadian gempa bumi. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan penegasan bahwa NTB hidup di atas panggung tektonik yang aktif.
Di saat yang sama, lebih dari sejuta petir tercatat menyambar langit provinsi kepulauan ini, dengan konsentrasi tertinggi di Pulau Sumbawa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hujan lebat memang diprakirakan melandai, tetapi cuaca ekstrem belum benar-benar pergi. Ia hanya berganti rupa, datang lebih lokal, lebih tiba-tiba, dan sering kali berkelindan dengan ancaman lain seperti banjir rob dan gelombang tinggi.
Di titik inilah kewaspadaan menjadi isu publik yang mendesak. Bukan lagi sekadar soal membaca prakiraan cuaca atau mengikuti imbauan saat gempa terasa, melainkan bagaimana masyarakat dan pemerintah memaknai isyarat alam sebagai dasar membangun ketahanan bersama.
Isyarat
Sebaiknya Anda baca juga:
Secara geologis, NTB berada di wilayah yang rumit. Subduksi lempeng Indo-Australia di selatan, sesar naik Flores Back Arc di utara, serta sejumlah sesar aktif di darat dan laut menjadikan gempa sebagai fenomena yang tak terpisahkan.
Mayoritas gempa yang tercatat berkekuatan kecil, di bawah magnitudo 3, dan tidak dirasakan. Namun, sejarah mencatat bahwa gempa merusak justru lahir dari sistem yang sama, seperti yang terjadi di Lombok pada 2018.
Artinya, banyaknya gempa kecil bukan alasan untuk merasa aman, tetapi justru pengingat bahwa energi terus bergerak.
Di lapisan atmosfer, dinamika tak kalah kompleks. Lebih dari satu juta sambaran petir sepanjang 2025 menunjukkan betapa aktifnya proses konvektif (perpindahan panas atau massa) di wilayah ini.
Petir bukan hanya fenomena visual, melainkan indikator awan cumulonimbus (awan vertikal raksasa) yang kuat, hujan deras berdurasi pendek, dan potensi angin kencang. Di Kabupaten Sumbawa, intensitas sambaran petir mencapai lebih dari 168 sambaran per kilometer di zona tertentu.
Ini menempatkan wilayah tersebut dalam kategori risiko tinggi terhadap gangguan aktivitas luar ruang, pertanian, hingga infrastruktur kelistrikan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!