Jateng Jadi Magnet Baru Investasi,: DEN Ungkap 27 Pabrik Baru Segera Beroperasi, Sinyal Kebangkitan Sektor Garmen dan Alas Kaki Nasional
📅 Jumat, 24 Okt 2025, 17:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Istimewa.
JAKARTA – Sektor garmen dan industri alas kaki memegang peran penting dalam menjaga daya saing ekspor manufaktur Indonesia.
Di tengah dinamika global dan perubahan tren perdagangan, mendorong kinerja kedua sektor ini berarti memperkuat salah satu tulang punggung industri padat karya yang menyerap jutaan tenaga kerja.
Secara ekonomi, peningkatan produktivitas dan efisiensi di sektor ini bukan hanya soal menjaga ekspor tetap tumbuh, tetapi juga menciptakan stabilitas sosial melalui lapangan kerja yang berkelanjutan.
Apalagi, permintaan global terhadap produk fesyen dan alas kaki terus berkembang, terutama dari pasar dengan preferensi pada produk ramah lingkungan dan berstandar etis.
Dorongan kebijakan yang tepat—mulai dari insentif fiskal, peningkatan kapasitas SDM, hingga transformasi digital dalam rantai pasok—akan menjadi kunci agar industri garmen dan alas kaki mampu beradaptasi dan naik kelas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan begitu, Indonesia tak sekadar menjadi basis produksi murah, tapi pemain strategis di pasar global yang bernilai tinggi.
Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto mengatakan 27 pabrik baru akan dibuka di Jawa Tengah pada sektor garmen dan industri alas kaki (footwear).
“Kalau dari studi kita di DEN, ada sekitar 27 pabrik yang baru buka, ini sektornya garmen dan footwear yang penyerapan tenaga kerjanya besar itu memang di Jawa Tengah (Jateng),” ucapnya dalam konferensi pers pasca agenda OCBC Business Forum 2025: “Strategic Resilience – Growth in the Era of Uncertainty” di Jakarta, Jumat (24/10).
Sebaiknya Anda baca juga:
Berdasarkan catatan DEN, terdapat lebih dari 130 ribu lowongan kerja yang akan dibuka di Jateng.
Secara spesifik, pabrik-pabrik baru berasal dari empat kota di Jateng, yakni Brebes, Pekalongan, Tegal dan Pemalang. Pabrik-pabrik tersebut ada yang baru mulai produksi hingga ekspansi.
Pengusaha dinilai memperoleh keuntungan dari segi tenaga kerja karena belum banyak kompetisi antar industri, dan segi logistik karena bisa memanfaatkan Tol Trans Jawa.
DEN melihat hal ini menjadi satu peluang untuk membentuk ekosistem di industri garmen dan alas kaki.
“Jadi kalau di baterai kan kita mulainya dari hulu, terus ke hilir ya, dari nikelnya dulu ke hilir. Nah, untuk yang garmen ini kita sudah ada hilirnya, sekarang bagaimana kita develop (mengembangkan) midstream (tahap tengah antara hulu dan hilir) dan upstream-nya (hulu),” kata Seto.
“Midstream dan upstream-nya, ini akan lebih less labor intensive, tapi kalau ini gak ada, hilirnya juga nanti akan ketergantungan terhadap impor,” ujar dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!