Lonjakan Penyakit Menular Jadi Sorotan, Dinkes Bone Bolango Perkuat Upaya Pencegahan.
📅 Rabu, 22 Jul 2026, 11:47 WIB | Oleh: Yebdi TrismarDinas Kesehatan Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, melaporkan tantangan kesehatan masyarakat yang cukup serius terkait lonjakan berbagai kasus penyakit menular di wilayah itu.
Kepala Dinas Kesehatan Bone Bolango dr. Meyrin Kadir di Gorontalo, Selasa, mengatakan laporan tersebut dirilis berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR).
"Data terkini mencatat adanya ribuan kasus penyakit yang mendominasi, yaitu:
- 4.882 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA),
- 1.244 kasus diare akut, dan
- 298 kasus suspek deman tifoid," kata Meyrin.
Berikut Dinas Kesehatan juga telah mencatat sebanyak 303 kasus pneumonia dengan dua kematian:
- 47 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD dengan dua kematian, serta
- 22 kasus suspek campak yang mengakibatkan satu kematian.
Selain itu pihaknya juga mencatat sebanyak 52 kasus gigitan hewan penular rabies yang menyebabkan satu korban jiwa, dimana permasalahan itu dipicu oleh rendahnya cakupan vaksinasi pada hewan penular, serta adanya penolakan dari sebagian masyatakat untuk melengkapi Vaksin Anti Rabies (VAR) setelah digigit.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi kata dia menunjukkan lonjakan drastis pada kasus malaria juga saat ini telah mencapai 116 kasus, padahal Kabupaten Bone Bolango sebelumnya telah berhasil mencapai kondisi zero report atau nol kasus malaria.
Peningkatan kasus malaria itu dipengaruhi oleh mobilitas pekerja tambang dari daerah endemis malaria yang masuk ke Bone Bolango, dimana kondisi tersebut mengancam status eliminasi malaria yang selama ini berhasil dipertahankan.
Data kenaikan berbagai penyakit itu kata dia lagi, dipicu oleh akumulasi beberapa faktor lingkungan dan perilaku masyarakat, mulai dari krisis sanitasi, rendahnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menurunnya budaya kerja bakti, hingga kebiasaan membuang sampah sembarangan di jalan, sungai, selokan, dan area persawahan yang menciptakan genangan air tempat sarang penyakit.
Sementara itu khusus untuk tingginya kasus ISPA, pneumonia, dan tuberkulosis, diperparah oleh kebiasaan merokok di dalam rumah serta kurangnya ventilasi udara yang sehat.
Kemudian di sisi lain, masih banyak rumah tangga belum memiliki septic tank standar, serta ditambah keterbatasan armada pengangkut sampah yang membuat sebagian wilayah belum terlayani secara optimal.
Ia mengatakan, tingginya kasus diare dan tifoid berkolerasi dengan kebiasaan konsumsi jajanan yang tidak higienis di lingkungan sekolah maupun tempat kerja.
"Kami juga mengidentifikasi tantangan pengolahan limbah peternakan yang belum memenuhi standar kesehatan, penolakan imunisasi pada kelompok masyarakat tertentu, serta belum optimalnya kinerja Tim Gerak Cepat (TGC) di tingkat Puskesmas dalam melakukan penanganan dini" katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!