Transparansi dan Efektivitas Belanja Negara Harus Diperkuat
📅 Rabu, 22 Jul 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: Kemenkeu – Litbang KJ/and - KJ/Ones
JAKARTA - Pemerintah diminta menyampaikan rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun berjalan secara lebih komprehensif agar masyarakat bisa menilai kualitas kinerja fiskal secara utuh.
Direktur Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI) Iyuk Wahyudi menilai capaian APBN hingga Juni 2026 yang mencatat defisit sebesar 196,5 triliun rupiah atau 0,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) menunjukkan kondisi fiskal masih berada dalam batas yang terkendali.
“Angka agregat memang penting untuk melihat kondisi umum APBN. Tetapi publik juga perlu mengetahui apa yang sebenarnya menjadi mesin pertumbuhan penerimaan negara. Misalnya, sektor apa yang mencatat kenaikan pembayaran pajak, sektor mana yang masih mengalami perlambatan, serta bagaimana perkembangan penerimaan dari bea cukai maupun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP),” kata Iyuk di Jakarta, Selasa (21/7).
Menurut dia, rincian tersebut penting karena akan memberikan gambaran mengenai kondisi riil perekonomian nasional. Jika pertumbuhan penerimaan hanya ditopang oleh beberapa sektor tertentu, sementara sektor lain masih melemah, maka pemerintah dapat lebih cepat menyiapkan kebijakan yang tepat sasaran.
Selain sisi pendapatan, Iyuk juga menilai transparansi belanja negara perlu diperkuat. Pemerintah, katanya perlu menjelaskan realisasi belanja kementerian/lembaga maupun pelaksanaan berbagai program prioritas sehingga masyarakat dapat menilai efektivitas penggunaan anggaran.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Publik tidak hanya membutuhkan informasi bahwa belanja negara berjalan baik. Yang lebih penting adalah mengetahui anggaran tersebut digunakan untuk program apa saja, sejauh mana penyerapannya, dan apakah sudah memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi maupun kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Iyuk mengatakan keterbukaan informasi fiskal merupakan bagian dari akuntabilitas pemerintah. Dengan data yang lebih rinci, pelaku usaha, akademisi, maupun investor dapat membaca arah perekonomian nasional secara lebih akurat dan tidak hanya bergantung pada indikator makro.
Dengan penyampaian APBN secara terinci dan berkala, akan memperkuat kepercayaan publik terhadap pengelolaan fiskal Pemerintah karena setiap perkembangan penerimaan maupun belanja dapat dievaluasi secara objektif.
“Semakin lengkap informasi yang disampaikan, semakin mudah pula publik menilai apakah perbaikan penerimaan negara berasal dari pemulihan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan atau hanya dipengaruhi faktor-faktor yang sifatnya sementara,” kata Iyuk.
Realisasi Belanja
Sementara itu, Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menilai defisit yang melambat dipengaruhi dua faktor, yakni sisi belanja dan sisi penerimaan negara. “Pertama, defisit itu kan dari dua sisi, pendapatan negara dan juga belanja negara. Belanja negara, saya rasa dampak dari penghematan belanja dari MBG yang diefisiensikan secara signifikan,” kata Nailul.
Ia pun menyoroti realisasi belanja negara yang masih jauh di bawah penerimaan. “Terlihat dari belanja negara yang hanya 43,1 persen dari APBN, bandingkan dengan penerimaan negara yang capai 46 persen terhadap APBN. Jadi secara defisit itu akan melambat,” jelasnya.
Dari sisi penerimaan, Nailul juga melihat ada kebijakan penahanan restitusi yang dilakukan Pemerintah.
“Kemudian dari sisi penerimaan negara, saya juga melihat ada penurunan restitusi yang memang diminta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!