Penyaluran Stimulus Harus Proporsional Sesuai Kebutuhan Riil di Masyarakat
📅 Rabu, 17 Sep 2025, 01:05 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: antara
JAKARTA - Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) menyatakan paket ekonomi 2025 yang mencakup 8 program akselerasi, 4 program lanjutan, dan 5 program penyerapan tenaga kerja (8+4+5) akan mendorong tersedianya lapangan kerja, peningkatan daya beli, dan pertumbuhan ekonomi.
Guru Besar Sosiologi Ekonomi dari Universitas Airlangga, Surabaya, Bagong Suyanto yang diminta tanggapannya mengatakan, gagasan paket ekonomi 8+4+5 memang akan berdampak positif terhadap tersedianya lapangan kerja. Namun ia berharap peruntukkannya dilakukan lebih proporsional sesuai kebutuhan nyata.
“Rencana stimulus 8+4+5 memang positif, namun sebaiknya peruntukkan sasarannya nanti proporsional saja sesuai kebutuhan riil di masyarakat, itu yang menentukan nanti apakah stimulus yang digelontorkan efektif atau sebaliknya,” kata Bagong.
Sebab itu, dia mengatakan seharusnya ada survei yang lebih teliti dan kredibel supaya tepat sasaran. Apalagi, kalau bicara basis kemiskinan yang selama ini lemah daya belinya, mayoritas ada di pedesaan.
“Pengangguran di kota juga banyak, jadi mungkin golongan job less ini nanti proporsinya lebih diperhatikan,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya pada kesempatan terpisah, Tenaga Ahli Utama PCO, Fithra Faisal menjelaskan paket stimulus ekonomi itu merupakan jawaban atas tuntutan masyarakat, terutama terkait penyediaan lapangan kerja berkualitas, sekaligus jaminan bagi pekerja lepas tanpa kontrak kerja (gig worker).
“Terutama ojol (pengemudi ojek online) yang kemarin mendapatkan concern yang lumayan besar dari Presiden,” kata Fithra.
Dalam keterangan sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan salah satu stimulus dalam 8 inisiatif utama adalah diskon 50 persen iuran BPJS Ketenagakerjaan (Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian) untuk pengemudi ojek online, ojek pangkalan, sopir, kurir, dan pekerja logistik.
Menurut Fithra, program akselerasi juga difokuskan pada penyerapan tenaga kerja melalui magang untuk 20 ribu lulusan baru perguruan tinggi, dengan uang saku 3,3 juta rupiah per bulan.
“Jadi pemerintah menjamin 20 ribu fresh graduate ini untuk bisa langsung masuk ke sistem melalui magang, sehingga pada akhirnya mereka tidak menjadi sumber daya yang menganggur,” katanya.
Padat Karya Tunai
Selain itu, ada juga program padat karya tunai (cash for work) yang dianggarkan Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), serta lima paket penyerapan tenaga kerja dari program unggulan Presiden Prabowo Subianto, termasuk Koperasi Desa/ Kelurahan Merah Putih yang ditargetkan menyerap lebih dari 1 juta tenaga kerja.
Begitu pula dengan Kampung Nelayan Merah Putih yang diharapkan menyerap lebih dari 200 ribu tenaga kerja.
“Jadi semua itu difokuskan pada bagaimana pemerintah menjawab tantangan mengenai penyediaan lapangan kerja berkualitas dan untuk gig worker,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!