Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Moratorium Utang 10 Tahun dan Arahkan APBN ke sektor Produktif dan Sektor Riil

📅 Kamis, 04 Sep 2025, 01:30 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Moratorium Utang 10 Tahun dan Arahkan APBN ke sektor Produktif dan Sektor Riil Doc: istimewa
Ket. Bank Dunia dan IMF tak boleh lepas tangan menyelamatkan RI, negara dengan populasi keempat terbanyak di dunia.

JAKARTA - Pemerintah harus menghentikan pendarahan (bleeding) keuangan negara agar bisa tetap bertahan. Jika tidak dihentikan dan terus mencari penyelesaian dengan kembali menarik utang baru atau memaksa meningkatkan penerimaan dengan menaikkan tarif pajak seperti kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan 200 persen di beberapa daerah, maka hal itu membuat beban keuangan negara makin berat.

Mengutip pernyataan yang pernah disampaikan Raymond Thomas Dalio, Manager Hedge Fund ternama Amerika yang juga pendiri Bridgewater Associates, mengatakan utang di atas utang dan defisit di atas defisit tidak akan bertahan.

Dengan beban Pemerintah yang amat luar biasa besar, karena warisan utang masa lalu, maka akan sangat sulit untuk keluar dari perangkap utang dan defisit.

Peneliti Pusat Riset Pengabdian Masyarakat (PRPM) Institut Shanti Bhuana, Bengkayang, Kalimantan Barat, Siprianus Jewarut yang diminta pendapatnya dari Jakarta, Rabu (3/9) mengatakan kalau belanja meningkat, maka harus jelas untuk apa, apakah pembiayaan itu yang kembali modal atau tidak balik modal.

“Belanja jangan untuk hal-hal yang sifatnya pemborosan. Kalau Bappenas tidak bisa membuat perencanaan yang baik, bagaimana memperbaiki secara nasional. Banyak orang pintar tidak dipakai, masing-masing jalan sendiri. Kalau mau hapus kesenjangan perbaiki sistemnya, yakni dengan membangun sektor riil termasuk ekonomi kerakyatan yang produktif,” kata Siprianus.

Konsep pemikiran bahwa pertumbuhan adalah menghasilkan sesuatu yang bisa digunakan untuk menghasilkan utang baru harus diubah. Indonesia tidak akan bisa bertahan kalau defisit bertumpuk.

Pemerintah katanya sudah saatnya menghentikan belanja impor yang tidak produktif, terutama utang digunakan untuk makan, karena itu mematikan. Pola mematikan seperti itu diakuinya dibiarkan oleh empat rezim sebelumnya demi kepentingan para pemburu rente atau rent seeking, yang sebenarnya mereka adalah lintah darat, namun dibiarkan dalam sistem kebijakan negara.

“Beautiul deleveraging itu sebenarnya moratorium, kita harus moratorium selama 10 tahun dan membiarkan APBN diarahkan ke sektor produktif dan sektor riil, sehingga setiap satu dollar AS moratorium menjadi 2 dollar AS,” katanya.

Dengan moratorium selama 10 tahun, Siprianus yakin RI punya waktu yang bermanfaat, bisa mengumpulkan pendapatan dari sektor riil sebagai tabungan untuk ditanamkan kembali sebagai modal kerja secara eksponensial.

Dalam 10 tahun, jumlahnya akan melebih jumlah utang dan pada tahun ke-10 bisa cicil dengan tabungan, sehingga utang akan cepat sekali lunas kalau model seperti itu dipertahankan.

Kebijakan seperti desentralisasi diakui ikut berpengaruh terhadap ketahanan fiskal nasional. Dia mengakui, desentralisasi bagus, namun jika disalahgunakan akan berbahaya sekali, harus dipakai untuk ekonomi rakyat.

Kenapa desentralisasi di Tiongkok berhasil, karena sistemnya ditata dengan baik. Setiap provinsi daerah kalau berhasil, maka pejabatnya naik jabatan. Presiden Tiongkok, Xi Jinping misalnya, awalnya dari pemimpin daerah yang bagus sehingga karirnya terus menanjak. Desentralisasi bagus, jika pemimpin atau kepala daerahnya menunjukkan kinerja ekonomi yang baik.

“Seharusnya ada score card, jangan semua mau jadi Capres, tapi tidak jelas dari mana dan seperti apa rekam jejak karirnya,” katanya.

Selain desentralisasi, pemindahan Ibukota Negara juga dipandang penting, agar mereka tidak berlomba-lomba ingin jadi pemimpin di Jakarta yang hanya menampung program nasional, bukan prestasi pemimpin kotanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Menjaga Rupiah dengan BI Rate Tinggi, Akankah Berhasil?

28 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Nasional
Menjaga Rupiah dengan BI Ra...

“Panda” Senilai 1 Miliar Dollar AS, Mungkinkah?

33 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Nasional
“Panda” Senilai 1 Milia...
Olahraga
Saatnya Menjadi Juara, Jani...
Ekonomi
Transformasi Empat Bandara ...
Ekonomi
PLTS Oelpuah Jadi Pembangki...
Ekonomi
Dukungan Fiskal Daerah Haru...
Nasional
Tiongkok Diyakini Tetap Per...
Olahraga
Piala Dunia, Kanada Kembali...
  • Modus Canggih di Jepang: Eks Insinyur Racik Program Sendiri Demi Gasak Jutaan Yen
    Preview komentar:
    Hubungi nomor 082178509155 Atau 1500001 (layanan khusus untuk ...
    Anda dapat menghubungi layanan support (Tokocrypto) melalui nomor ...
  • Instruksi Prabowo Dijalankan! PKP Siapkan Rusun Subsidi di Kota-Kota Jatim
    Preview komentar:
    Berikut Nomor Whatsapp Resmi Tokocrypto adalah +62 818-898-300, ...
    Perlu di ingat, Saluran resmi Tokocrypto, hanya di ...
  • Rp2,2 Triliun Digelontorkan! Kementerian PKP Kebut Bangun Huntap Pascabencana di Sumatera
    Preview komentar:
    Sedih ya, teman-teman... Saluran resmi (Bri QLola) hanya ...
    Saluran resmi (Bri QLola) hanya bisa dihubungi di ...
Kenaikan BI Rate tak Boleh Ganggu Kredit ke Sektor UMKM

Kenaikan BI Rate tak Boleh Ganggu Kredit ke Sektor UMKM

19 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.