MR.D.I.Y. Art Competition 2025 Umumkan Daftar Pemenang dan Tampilkan Karya Terbaik Seniman Lokal
📅 Rabu, 06 Agu 2025, 22:58 WIB | Oleh: Rivaldi Dani RahmadiAndita Purnama, seniman multidisipliner yang menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Institut Seni Indonesia. Ia berkarya dalam berbagai medium, termasuk seni rupa dua dimensi, instalasi, dan seni pertunjukan. Dalam beberapa tahun terakhir, Andita juga fokus mengeksplorasi seni pertunjukan berbasis video, salah satunya melalui proyek Cloud11, yang menggunakan simbol-simbol Jawa sebagai metafora untuk mengartikulasikan isu dan narasi personal.
- President Director’s Award: Dona Prawita Arissuta dengan karya We’ve Not Just Been Extremely Fortunate
Ungkapan syukur atas keberagaman bangsa melalui metafora visual gunungan dan simbol kultural.
Dona Parwita, seniman kontemporer dengan pendekatan multidisipliner yang mengeksplorasi isu tubuh, identitas, dan pengalaman perempuan dalam konteks sosial budaya urban. Lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, Dona dikenal melalui instalasi yang menggunakan objek sehari-hari, tekstil, dan narasi personal sebagai bentuk refleksi kritis. Karyanya telah ditampilkan di berbagai pameran nasional dan internasional, termasuk Biennale Jogja, Art Jakarta, dan Galeri Nasional Indonesia.
Kategori Pelajar & Mahasiswa:
Sebaiknya Anda baca juga:
- Grand Prize: Diandra Lamees dengan karya Upacara Imlek Versiku
Perjalanan mengenal ulang budaya Tionghoa lewat bentuk keramik reflektif.
Diandra Lamees, mahasiswa seni rupa tingkat akhir di Institut Teknologi Bandung yang mengambil spesialisasi studio keramik. Selama berkarya, ia beberapa kali mencoba memahami rasa asingnya terhadap identitasnya sebagai seorang Tionghoa Indonesia.
- Judges' Award: Raden Muhammad Taufik Hidayat dengan karya Penyambutan Semesta #2
Representasi quarter-life crisis sebagai ruang jeda dan refleksi dalam banjir informasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Taufik Hidayat, seniman lintas medium yang berbasis di Yogyakarta. Melalui pendekatan konseptual berbasis riset, ia mengeksplorasi relasi antara material, sejarah, dan dinamika sosial-politik. Meski dikenal lewat karya keramiknya, Taufik bekerja dengan berbagai medium untuk membongkar dan merangkai ulang narasi yang terpinggirkan. Saat ini, ia tengah menyelesaikan studi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan menjalani riset tentang sejarah pangan dalam program Asana Bina Seni Biennale Jogja.
- President Director’s Award: Prakadetto Alansa dengan karya Momen Pemersatu
Sepakbola dan kekayaan hayati Indonesia sebagai simbol identitas dan kesatuan bangsa.
Prakadetto Alansa, seniman muda asal Gunungkidul yang kini menetap dan berkarya di Yogyakarta. Saat ini ia menempuh pendidikan di Program Studi Seni Rupa Murni, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dan aktif menjalin kolaborasi profesional dengan Sewu Satu Gallery. Karyanya berangkat dari pendekatan realis yang didekonstruksi, menyingkap estetika dalam bentuk-bentuk yang tidak utuh maupun tak terduga. Bagi Prakadetto, ketidakteraturan justru memuat narasi jujur tentang realitas.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!