Eropa Hadapi Krisis Kesehatan! Tanpa Sadar Jutaan Orang Terinfeksi Hepatitis, Terancam Risiko Kanker Hati
📅 Kamis, 31 Jul 2025, 15:38 WIB | Oleh: Andriani Nuraini
Doc: Freepik/ilustrasi
Di tengah krisis kesehatan global, Eropa kini dihadapkan pada masalah besar yang banyak tidak disadari oleh masyarakat. Lebih dari lima juta orang di wilayah Uni Eropa, Islandia, Liechtenstein, dan Norwegia diperkirakan hidup dengan infeksi hepatitis B atau C kronis. Namun, yang mengkhawatirkan, mayoritas dari mereka tidak tahu bahwa mereka terinfeksi. Bahkan, banyak yang belum mendapatkan pengobatan yang tepat.
Menurut laporan terbaru dari European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC), hepatitis B dan C sering kali berkembang tanpa gejala yang terlihat selama bertahun-tahun, sehingga disebut sebagai “silent infections.” Penyakit ini merayap perlahan tanpa menimbulkan tanda-tanda jelas, dan dalam jangka panjang, dapat menyebabkan kerusakan hati yang serius, termasuk fibrosis, sirosis, atau bahkan kanker hati.
Penularan hepatitis B dan C terjadi melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh yang terinfeksi, baik itu melalui hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik bersama, atau transfusi darah yang terkontaminasi. ECDC mencatat sekitar 3,2 juta orang di Eropa terinfeksi hepatitis B, sementara 1,8 juta lainnya mengidap hepatitis C. Kombinasi keduanya tercatat menyebabkan sekitar 50.000 kematian setiap tahunnya di kawasan tersebut. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, lebih dari 60% kasus hepatitis B dan C belum terdeteksi.
Ini berarti, jutaan orang mungkin tidak sadar bahwa mereka membawa virus mematikan dalam tubuh mereka dan baru mengetahui saat kondisi sudah memburuk. Padahal, hepatitis C bisa disembuhkan dengan pengobatan antivirus yang sangat efektif dan hanya membutuhkan waktu singkat. Hepatitis B, meski belum bisa disembuhkan sepenuhnya, dapat dikontrol dengan terapi jangka panjang untuk menekan aktivitas virus dan mencegah kerusakan hati lebih lanjut.
Dr. Marieke van der Werf, Kepala Divisi ECDC untuk virus menular melalui darah, menegaskan pentingnya peningkatan upaya pencegahan dan penanganan hepatitis. Ia menyatakan bahwa akses ke vaksinasi, tes, dan pengobatan harus segera diperluas untuk mewujudkan Eropa yang lebih sehat dan tangguh.
Sementara itu, hepatitis A juga mulai mencuat sebagai ancaman baru, khususnya di Republik Ceko yang tengah mengalami lonjakan kasus. Berbeda dengan hepatitis B dan C, hepatitis A menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi, dan umumnya sembuh dengan sendirinya. Namun, di beberapa kasus, terutama pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, hepatitis A bisa berujung fatal.
Secara global, hepatitis kronis menjadi penyebab sekitar 1,3 juta kematian setiap tahunnya, yang setara dengan 3.500 kematian per hari, jumlah yang hampir sama dengan dampak tuberkulosis (TBC). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa sekitar 2,8 juta kematian bisa dicegah pada 2030 jika negara-negara bersedia memperluas skrining, meningkatkan akses pengobatan, dan memberikan perhatian khusus kepada kelompok berisiko tinggi.
Dengan pengobatan yang tepat, banyak infeksi hepatitis yang bisa dikendalikan, dan risiko komplikasi serius seperti kanker hati bisa diminimalisir. Oleh karena itu, deteksi dini dan akses pengobatan yang lebih mudah adalah kunci utama untuk memerangi hepatitis, serta meningkatkan kualitas hidup jutaan orang yang mungkin tak sadar mereka terinfeksi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!