CORE Ingatkan: Kalau Produk Biasa Saja, Kopdes Gagal Cuan!
📅 Jumat, 18 Jul 2025, 00:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: istimewa
JAKARTA – Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih harus mengembangkan produk bernilai tinggi agar bisa mencapai keuntungan maksimal hingga 1 miliar rupiah per tahun. Pengembangan itu perlu dilakukan bagi Kopde dengan model bisnis hanya berfokus pada penyediaan barang konsumsi pokok.
Peneliti dari Centre of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian mengatakan dengan model bisnis Koperasi Desa Merah Putih yang akan dijalankan, seperti agen LPG, agen beras, dan pupuk, menyerupai ritel modern atau minimarket desa, mereka mengandalkan volume penjualan tinggi dengan margin keuntungan relatif rendah.
“Kalau skalanya masih level desa, keuntungan 1 miliar rupiah per tahun masih belum bisa mencapai. Kecuali jika lini bisnisnya itu membuat produk baru yang bernilai tambah tinggi,” kata Eliza saat dihubungi di Jakarta, Kamis (17/7).
Dia mencontohkan koperasi mengolah singkong menjadi tepung singkong atau singkong beku, atau mengolah cabai menjadi cabai bubuk/ pasta/ chili oil. "Ini pasarnya lebih luas, bisa ke luar daerah bahkan ekspor sehingga memungkinkan keuntungan besar,” ujar dia menambahkan.
Dia menjelaskan pasokan produk untuk Kopdes Merah Putih nantinya langsung dari produsennya, seperti Pertamina, Bulog, dan Pupuk Indonesia. Menurutnya, Kopdes efektif memangkas rantai distribusi hingga 2-3 lapis sehingga mampu mengurangi biaya hingga 15-20 persen dari margin yang selama ini dinikmati perantara.
Sebaiknya Anda baca juga:
Eliza memaparkan dengan estimasi rata-rata 3.000-5.000 penduduk per desa, Kopdes Merah Putih tetap berpotensi untung dari berbagai lini bisnis mereka.
Berdasarkan perhitungannya, Eliza menyebut melalui penjualan LPG, Kopdes Merah Putih berpotensi menghasilkan 1-3 juta rupiah per bulan. Ini didasarkan pada perhitungan kasar penjualan sekitar 500-1.000 tabung per bulan, dengan keuntungan 2.000-3.000 rupiah setiap tabung.
Untuk sektor pupuk, koperasi desa bisa meraup keuntungan tahunan sekitar 25-50 juta rupiah. Angka ini didapatkan dari margin 5-10 persen dari total penjualan pupuk yang mencapai 500 juta rupiah per tahun, dengan asumsi cakupan lahan sawah seluas 500-1.000 hektare.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penjualan Sembako
Sementara itu, dari penjualan sembako, jika volume penjualannya mencapai 50-100 juta rupiah per bulan dengan margin 10 persen, keuntungan yang didapatkan berpotensi sekitar 5-10 juta rupiah per bulan.
Meskipun angka-angka tersebut menunjukkan potensi untung, keuntungan kumulatif dari model distribusi skala desa ini dinilai masih belum mampu mencapai target laba maksimal, seperti 1 miliar rupiah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!