Anak Gampang Cemas? Begini Cara Orang Tua Bantu Mereka Jadi Lebih Tangguh!
📅 Sabtu, 21 Jun 2025, 22:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Yale News
JAKARTA — “Kalau ada penembakan di sekolah, aku bakal lompat dari jendela dan lari.” Kalimat itu keluar dari mulut seorang anak usia 11 tahun, saat berbincang santai sebelum tidur bersama ibunya.
Bukan karena dia suka dramatis, tapi karena dia cemas. Cemas tentang keselamatan dirinya, tentang dunia, tentang masa depan. Dan dia bukan satu-satunya.
Anak-anak zaman sekarang tumbuh dalam realitas yang penuh kekhawatiran. Mulai dari berita soal kekerasan, tekanan di sekolah, sampai hal-hal kecil dalam hidup pribadi mereka, semuanya bisa jadi pemicu kecemasan.
Menurut dua terapis keluarga, Maria Evans dan Ashley Graber, kondisi ini sangat wajar, mengingat dunia kita saat ini “didesain” untuk bikin stres. Itulah kenapa mereka menulis buku Raising Calm Kids in a World of Worry.
Dalam wawancara bersama CNN, Evans dan Graber membagikan pendekatan bernama SAFER yang bisa dipakai orang tua buat bantu anak-anak lebih tenang menghadapi hidup yang nggak selalu bersahabat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Apa itu metode SAFER?
Menurut Graber, SAFER adalah panduan sederhana berbasis terapi untuk menciptakan psychological safety di rumah. Singkatannya: Set the tone, Allow feelings, Form identity, Engage like a pro, Role model.
Tujuannya adalah membangun fondasi emosional yang kuat buat anak—tanpa mengabaikan realita dunia yang penuh tekanan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Anak perlu merasa aman secara emosional, bukan hanya secara fisik. Dan itu harus dimulai dari cara orang tua merespons perasaan mereka,” ujar Evans.
Tanda-tanda anak sedang cemas
Banyak orang tua baru sadar anaknya punya masalah kecemasan ketika mereka sudah menunjukkan gejala fisik: sakit perut, sesak napas, tangan gemetar, atau kebiasaan seperti menggigit kuku dan memutar rambut.
Tapi menurut Graber, tanda-tanda kecemasan juga bisa muncul dalam bentuk regresi—misalnya anak yang sebelumnya berani tidur sendiri tiba-tiba takut ditinggal. Atau muncul ketakutan yang tampaknya nggak masuk akal.
Dua hal lain yang sering jadi red flag adalah separation anxiety (takut berpisah dengan orang tua) dan avoidance(menghindari situasi tertentu secara terus-menerus).
Bagaimana menciptakan suasana tenang saat orang tua sendiri lagi stres?
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!