Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Efektivitas Penertiban IUP: Kasus Raja Ampat dan Komitmen Lingkungan Pemerintah

📅 Selasa, 10 Jun 2025, 15:20 WIB | Oleh:
Efektivitas Penertiban IUP: Kasus Raja Ampat dan Komitmen Lingkungan Pemerintah Doc: ANTARA
Ket. Prasetyo Hadi yang tengah membahas terkait dengan pencabutan izin usaha pertambangan (IUP) di Raja Ampat, Papua Barat Daya.

JAKARTA – Keputusan pemerintah mencabut izin usaha pertambangan (IUP) empat perusahaan di Raja Ampat, Papua Barat Daya, menjadi perhatian publik. Upaya ini diklaim sebagai bagian dari penertiban yang telah bergulir sejak Januari 2025, sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2025 tentang Penertiban Kawasan Hutan. Namun, seberapa efektifkah proses penertiban yang disebut-sebut sudah berjalan sejak awal tahun ini dalam menjaga kelestarian lingkungan dan tata kelola sumber daya alam?

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa pencabutan izin di Raja Ampat bukanlah tindakan mendadak, melainkan hasil dari komitmen pemerintah yang lebih luas. "Perlu saudara-saudara ketahui bahwa sesungguhnya pemerintah sejak Januari telah menerbitkan peraturan presiden mengenai penertiban kawasan hutan, yang di dalamnya termasuk usaha-usaha berbasis sumber daya alam, dalam hal ini usaha-usaha pertambangan," kata Prasetyo dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (10/6) hari ini. Ia menegaskan, kasus Raja Ampat hanyalah salah satu bagian dari proses penertiban yang lebih luas yang diamanatkan oleh Perpres yang diteken Presiden Prabowo.

Empat perusahaan yang dicabut IUP-nya adalah PT Anugerah Surya Pratama, PT Nurham, PT Mulia Raymond Perkasa, dan PT Kawei Sejahtera Mining, karena terbukti melanggar ketentuan lingkungan dan berada di kawasan geopark. Keputusan ini diambil setelah rapat terbatas yang dipimpin Presiden, melibatkan Menteri ESDM dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta verifikasi lapangan. Prasetyo juga mengapresiasi peran serta masyarakat, khususnya pegiat media sosial, yang aktif memberikan masukan.

Meskipun pemerintah mengklaim penertiban sudah dimulai sejak Januari, pertanyaan tentang efektivitasnya tetap muncul. Dr. Lestari Budiarti, seorang pakar hukum lingkungan dari Universitas Gadjah Mada, mempertanyakan hal ini. "Jika proses penertiban sudah berjalan sejak Januari, seharusnya ada lebih banyak kasus pencabutan izin yang terungkap ke publik, atau setidaknya ada roadmap yang jelas," ujar Dr. Lestari kepada Koran Jakarta. Ia menambahkan, keputusan yang baru muncul ke permukaan belakangan ini mengindikasikan bahwa perjalanan penertiban masih sangat lambat dan belum optimal, terutama mengingat luasnya area yang berpotensi memiliki masalah serupa.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP), Bapak Bayu Pratama, memberikan pandangan berbeda. "Proses penertiban seperti ini memang memakan waktu. Ada banyak tahapan, mulai dari audit data, verifikasi lapangan, hingga koordinasi lintas kementerian. Fakta bahwa kasus Raja Ampat ini bisa ditindaklanjuti menunjukkan bahwa mekanismenya bekerja, meskipun mungkin belum secepat yang diharapkan publik," jelas Bayu. Menurutnya, yang terpenting adalah komitmen pemerintah untuk terus menindaklanjuti kasus serupa di wilayah lain, bukan hanya saat kasusnya menjadi viral.

Pencabutan IUP di Raja Ampat ini diharapkan menjadi sinyal kuat bagi perusahaan tambang lainnya untuk lebih patuh terhadap regulasi. Namun, publik dan para pengamat akan terus menanti bukti nyata bahwa proses penertiban yang diklaim sudah berjalan sejak Januari benar-benar efektif dan sistematis, tidak hanya menindak kasus-kasus yang sudah terlanjur "ramai".

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Wali Kota: Pemkot Bandung Dorong Industri Sepatu Perluas Pasar Ekspor
    Langkah strategis Pemkot Bandung menyoroti urgensi Surat Keterangan ...
  • UU Reforma Agraria Ditantang Bereskan Akar Konflik Tanah
    Orang kepercayaan Menterinya aja kena OTT KPK ...
  • Menekraf: Aplikasi Digital Kini Jadi Denyut Nadi Aktivitas Masyarakat, Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
    Membaca pemaparan komprehensif ini membuat saya semakin optimis ...
  • Ekonomi Kreatif dan UMKM Jakarta Mulai Andalkan Cetak 3D untuk Produksi Skala Kecil
    Mengetahui fakta bahwa penggunaan filamen berbasis PLA yang ...
  • Industri Baterai Dipacu, Transisi Energi dan Ekonomi Digital Jadi Kunci
    Ulasan yang sangat komprehensif dari Koran Jakarta mengenai ...
Advertisement
Art Jakarta Detail Sidebar
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Olahraga
City Lawan Norwich, Laga Be...
Nasional
TNI AL lakukan operasi SAR ...
Advertisement
Indonesia Resmi Tuan Rumah FIFA ASEAN Cup 2026, Ini Jadwal Lengkap Timnas Garuda

Indonesia Resmi Tuan Rumah FIFA ASEAN Cup 2026, Ini Jadwal Lengkap Timnas Garuda

16 Sep 2026
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.