Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Banyak Dilakukan, Kenali Risiko Bahaya dari Swamedikasi

📅 Minggu, 01 Jun 2025, 19:58 WIB | Oleh:
Banyak Dilakukan, Kenali Risiko Bahaya dari Swamedikasi Doc: BPS
Ket. Mengonsumsi obat atau jamu tanpa panduan medis atau swamedikasi bisa menimbulkan risiko kesehatan serius terutama jika dilakukan tanpa memahami dosis, efek samping, atau kondisi medis yang sebenarnya diderita.

JAKARTA - Pernah sakit kepala atau demam, lalu langsung beli obat di apotek tanpa ke dokter? Anda tidak sendirian! Faktanya, kebanyakan orang Indonesia memilih swamedikasi atau pengobatan mandiri tanpa resep dokter sebagai 'pertolongan pertama' saat kesehatan terganggu. Praktis memang, tapi tahukah risikonya?

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, terjadi peningkatan prevalensi swamedikasi sebesar 29% selama periode 2015–2024. Lonjakan tertinggi tercatat pada tahun 2021 sebesar 84,2%, diikuti oleh 84,3% pada 2022, sebelum sedikit menurun menjadi 79% pada 2024.

Meskipun mengalami sedikit penurunan pada tahun 2024, angka swamedikasi tetap sangat tinggi. Hal ini menunjukkan sebagian besar masyarakat Indonesia masih mengandalkan pengobatan mandiri sebagai solusi utama kesehatan.

Di sisi lain, meski BPS tidak menjelaskan secara spesifik mengenai penyebab kenaikan tersebut. Lonjakan angka yang terjadi pada periode 2021–2022 dapat dihubungkan dengan masa pandemi Covid-19, ketika akses ke layanan kesehatan formal terbatas, kekhawatiran masyarakat tertular COVID-19 di rumah sakit, serta adanya pembatasan pergerakan yang mempersulit konsultasi ke dokter.

Menariknya, meskipun pandemi telah mereda, tren swamedikasi tidak langsung turun secara drastis. Hal ini mengindikasikan bahwa ada faktor-faktor lain yang turut mendorong masyarakat untuk tetap mengandalkan pengobatan mandiri, misalnya persepsi efisiensi, kemudahan akses obat bebas, dan kebiasaan yang sudah terbentuk.

Beralih ke kancah global, praktik swamedikasi ternyata bukan fenomena yang hanya terjadi di Indonesia. Menurut hasil studi yang dipublikasikan oleh National Library of Medicine (2024), 85% masyarakat Republik Ceko mencoba pengobatan sendiri sebelum berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, seperti menggunakan obat herbal, homeopati, atau suplemen (seperti vitamin/mineral). Sementara itu, dilansir dari America-retail.com, sebanyak 75% populasi Brasil mengaku melakukan pengobatan mandiri tanpa berkonsultasi dengan spesialis. Hal ini menunjukkan bahwa swamedikasi merupakan bagian dari dinamika sistem kesehatan global, bukan hanya isu lokal.

Selain Republik Ceko dan Brasil, sejumlah negara lain juga menunjukkan tingkat swamedikasi yang tinggi. Polandia dan Kolombia masing-masing mencatat angka sebesar 73%, disusul Argentina dan Meksiko di atas 70%, Peru 69%, dan Amerika Serikat 65%.

Di kawasan Eropa Barat, Italia mencatat 56% dan Spanyol 55%. Sementara itu, negara-negara Asia seperti Korea Selatan (48%) dan Jepang (34%) menunjukkan angka yang jauh lebih rendah - mencerminkan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi terhadap sistem kesehatan formal.

Beberapa Penyebab

Fenomena swamedikasi di Indonesia bukan semata persoalan keterbatasan akses layanan kesehatan. Praktik ini juga dipengaruhi oleh faktor budaya, pengalaman pribadi, hingga kondisi ekonomi. Sebuah studi tahun 2022 oleh Universitas Padjadjaran Bandung mengidentifikasi setidaknya tujuh alasan utama mengapa swamedikasi digemari, khususnya di kalangan mahasiswa Fakultas Kedokteran di kampus tersebut.

Mereka menganggap sakit yang dialami tergolong ringan, pengalaman sebelumnya dalam penggunaan obat pribadi atau keluarga, kendala finansial, saran dari orang tua atau teman, keinginan menghemat waktu, pengetahuan medis atau farmasi yang dimiliki, serta kebutuhan yang sifatnya mendesak.

Meskipun temuan ini berasal dari populasi mahasiswa kedokteran yang memiliki pengetahuan klinis lebih tinggi dibanding masyarakat umum, perilaku yang ditunjukan tetap mencerminkan kecenderungan yang juga terlihat di masyarakat luas.

Tingginya angka swamedikasi di Indonesia tidak lepas dari keterbatasan sistem pelayanan kesehatan dan tantangan ekonomi masyarakat. Meski jangkauan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan telah mencapai 98,25% penduduk pada 2024, tingginya angka swamedikasi menunjukkan masih ada kesenjangan dalam akses atau kenyamanan pelayanan kesehatan formal.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam prosiding Seminar Nasional Official Statistics (Semnas Offstat) oleh Politeknik Statistika STIS (2021) menyatakan bahwa ketidakpuasan masyarakat terhadap layanan BPJS Kesehatan, seperti waktu tunggu yang lama dan proses administrasi yang rumit, menjadi salah satu faktor pendorong praktik swamedikasi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
BI: Cadangan Devisa Indones...
Ekonomi
Lewat Kreativitas, Festival...
Nasional
Wamenekraf Dorong Inovasi J...
Daerah
KAI: Penumpang KA Ciremai S...
Daerah
KAI: Pelanggan KA Makassar-...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
BMKG Catat Tsunami Tertinggi Terjadi di Talengan-Sangihe, Sulut

BMKG Catat Tsunami Tertinggi Terjadi di Talengan-Sangihe, Sulut

08 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.