Koran-jakarta.com || Rabu, 26 Mar 2025, 00:10 WIB

Pengurangan Emisi Karbon Nestle Diklaim Lebih Cepat Satu Tahun dari Target Awal

  • PT Nestle Indonesia
  • emisi karbon
  • Keberlanjutan

JAKARTA - Nestle Indonesia memaparkan pencapaian program keberlanjutan perusahaan dari hulu ke hilir termasuk dengan Business Units yang bernaung di bawah Nestle. Perusahaan ini menyatakan berhasil melakukan pengurangan emisi karbon sebesar 20,38 persen pada 2024.

Ket. Para pembicara berfoto bersama usai melakukan dialog berjudul “Diskusi Berkelanjutan” yang diadakan di Jakarta pada hari Senin (14/3).

Doc: Koran jakarta - Haryo Brono

Pengurangan itu bersumber dari pasokan 21,3 persen bahan baku utama dari praktik pertanian regeneratif, lebih cepat satu tahun dari target 2025. Selain itu juga telah membantu 10,2 juta anak muda di bawah usia 30 tahun mengakses peluang ekonomi sejak 2017, enam tahun lebih awal dari target semula pada 2030.

Dengan tantangan perubahan iklim yang semakin nyata, Nestle, sebagai perusahaan global di bidang Nutrition, Health, dan Wellness, memandang upaya keberlanjutan bukan hanya tentang mencapai target, namun juga tentang berkontribusi secara nyata bagi lingkungan sekitar.

Selama hampir 160 tahun, Nestle telah melakukan berbagai upaya inovatif untuk turut serta mengurangi dampak lingkungan dan menciptakan ekosistem yang lebih berkelanjutan, mulai dari pengurangan emisi karbon, hingga penerapan pertanian regeneratif.

Presiden Direktur PT Nestle Indonesia Samer Chedid, menuturkan, Nestle sebagai perusahaan ‘Good Food, Good Life’ telah menjadi bagian dari Indonesia sejak 1971 dengan komitmen untuk Menciptakan Manfaat Bersama bagi individu dan keluarga, masyarakat, dan planet.

“Di Nestle, kami percaya pada kolaborasi dalam menciptakan manfaat jangka panjang, tidak hanya untuk bisnis kami tetapi juga untuk lingkungan dan masyarakat di sekitar area operasional kami. Keyakinan kami pada doing well by doing good merupakan inti dari semua yang kami lakukan, dan itulah salah satu alasan kami menempatkan keberlanjutan sebagai inti dari pondasi kami,” ujar dia dia dalam Diskusi Berkelanjutan yang diadakan pada hari Senin (14/3).

Melalui berbagai program perusahaan yang pro-petani rakyat, Nestle berkomitmen untuk mendukung rantai pasok yang berkelanjutan, memastikan kesejahteraan mereka sambil menjaga standar kualitas terbaik.

“Komitmen tersebut sejalan dengan upaya kami dalam mencapai tujuan lingkungan yang lebih luas, seperti di antaranya termasuk komitmen globalnya untuk mencapai net zero emissions pada 2050 di bawah empat pilar keberlanjutan kami, bertindak atas perubahan iklim, pengemasan berkelanjutan, menjaga air, dan pengadaan bahan baku yang bertanggung jawab,” tambah Samer.

Di Indonesia, Nestle telah menerapkan berbagai program yang berkontribusi pada pencapaian target keberlanjutan global dengan menyesuaikan tantangan dan peluang lokal. Beberapa target utama keberlanjutan yang menjadi fokus Nestle Indonesia.

Beberapa hal yang dilakukan Nestle meliputi pengurangan emisi karbon, peningkatan penggunaan bahan baku regeneratif, pengurangan penggunaan plastik virgin dan penerapan ekonomi sirkular, hingga peningkatan akses terhadap gizi berkualitas. Keberlanjutan merupakan tanggung jawab bersama, dan keberhasilan inisiatif ini bergantung pada kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.

Pemerintah, komunitas, sektor swasta, dan masyarakat luas memiliki peran penting dalam mendorong perubahan menuju dunia yang lebih hijau. Media juga memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan informasi dan menginspirasi lebih banyak pihak untuk berkontribusi dalam perjalanan keberlanjutan ini.

Direktur Corporate Affairs & Sustainability PT Nestle Indonesia, Sufintri Rahayu, menuturkan pihaknya menyadari bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan kompleks, mulai dari perubahan iklim hingga ketahanan pangan yang menyebabkan pada meningkatnya masalah kesehatan. Tidak ada satu pihak pun yang dapat melakukan usaha ini sendiri, diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkannya.

“Sebagai salah satu pelaku usaha di Indonesia, Nestle berupaya untuk secara aktif mengambil bagian bersama berbagai pemangku kepentingan lainnya melakukan berbagai upaya dan inovasi untuk menjaga keberlanjutan,” ucapnya.

Lebih jauh, partisipasi aktif Nestle pada pengembangan infrastruktur pengelolaan sampah juga terus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas daur ulang dan mengurangi limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Neste berkontribusi dalam mendukung pemerintah Indonesia membangun infrastruktur pengolahan sampah. Pendirian TPS3R Baraya Runtah di Karawang merupakan salah satu bentuk dukungan Nestle dalam upaya pengurangan sampah rumah tangga dikirim ke TPA.

Fasilitas ini mengelola sekitar  4,8 ton sampah per hari dari sekitar 4.000 rumah tangga. Melalui inovasi, keberlanjutan, dan praktik bisnis yang bertanggung jawab, Nestle terus berupaya menciptakan dampak berkelanjutan yang melibatkan para pemangku kepentingan dan masyarakat luas, termasuk para petani yang merupakan mitra usaha.

“Ke depannya, Nestle akan terus berkomitmen untuk menghadirkan perubahan positif, membangun sistem pangan yang lebih baik, dan menciptakan masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan bagi semua,” janji Sufintri.

Pada Februari 2025, Nestle merilis CSV Report terbaru yang merangkum pencapaian inisiatif keberlanjutannya sepanjang 2024. Laporan ini menyoroti berbagai upaya perusahaan dalam mengurangi dampak lingkungan, termasuk pengurangan emisi karbon.

Secara global, Nestle telah berhasil menurunkan emisi karbon sebesar 20,38 persen dibandingkan 2018, dengan target selanjutnya mencapai 50 persen pada 2030 dan net zero pada 2050. Untuk mencapai target tersebut, Nestle mengadopsi energi terbarukan dalam operasionalnya. Saat ini, 95,3 persen listrik yang digunakan di fasilitas manufakturnya secara global telah bersumber dari energi terbarukan.

 Selain itu, Nestle juga berinovasi dalam pengemasan dan manajemen limbah, dengan fokus utama pada pengurangan penggunaan plastik virgin serta peningkatan proporsi kemasan yang dapat didaur ulang atau digunakan kembali.

Bermitra dengan Petani dan Peternak

Komitmen keberlanjutan Nestle juga mencakup dukungan terhadap sektor pertanian dan peternakan rakyat, termasuk di Indonesia. Perusahaan terus mendorong praktik pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan guna menciptakan sistem produksi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

Di Indonesia, Nestle telah bermitra dengan para peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan mereka melalui pertanian regeneratif. Sejak 1975, kami telah melakukan pendampingan dan edukasi teknis, bantuan sarana produksi, hingga akses ke pasar maupun keuangan kepada para mitra peternak.

“Melalui upaya-upaya ini, Nestle mampu menggunakan 100 persen susu segar hasil dari peternakan rakyat sebagai bahan baku produksi susu murni Bear Brand,” jelas Business Executive Officer Adult Dair. ”Selain itu, kami juga membantu mitra peternak sapi perah rakyat membangun lebih dari 8.800 kubah biogas dan 2.400 unit slurry application sebagai sumber pupuk,” imbuhnya.

Head of Sustainable Agri PT Nestle Indonesia Syahrudi, menuturkan, Nestle turut mencatat keberhasilan dalam mengimplementasikan program pertanian regeneratif di lebih dari 2.000 petani kopi rakyat di Lampung melalui inisiatif RegenTa yang merupakan bagian dari Nescafe Plan 2030.

“Program tersebut diklaim membantu petani meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, dan menciptakan sumber pendapatan tambahan melalui diversifikasi tanaman (agroforestry) dan peternakan yang sesuai dengan kondisi local,” ungkapnya.

Lebih lanjut, melalui Farmer Business School, petani kopi tidak hanya meningkatkan praktik pertanian mereka, tetapi juga mengembangkan keterampilan kewirausahaan yang membantu mereka mengelola bisnis pertanian mereka dengan lebih baik.

Pengurangan Plastik Virgin

Sustainability Delivery Lead PT Nestle Indonesia Maruli Sitompul, menyampaikan, hingga akhir 2024, secara global Nestle telah berhasil memperoleh 21,3 persen bahan baku utama dari petani yang menerapkan praktik pertanian regeneratif, yang melampaui target awal 20 persen pada 2025. Langkah lain dalam mewujudkan keberlanjutan adalah transisi dari kemasan plastik konvensional ke kemasan yang lebih ramah lingkungan.

Pemakaian plastik virgin telah berkurang 21,3 persen sejak 2018 secara global melalui berbagai Upaya seperti penggunaan plastik daur ulang dalam kemasan hingga penerapan desain kemasan yang lebih efisien dalam penggunaan material.

“Di Indonesia sendiri, inisiatif nyata yang dilakukan meliputi mengganti seluruh sedotan plastic di produk ready-to-drink dengan sedotan kertas, menggunakan kemasan plastik yang memiliki kandungan daur ulang (recycled content), melakukan desain kemasan yang dapat mengurangi penggunaan plastik dan bertransisi menggunakan bahan kemasan plastik yang dapat didaur ulang (recyclable),” jelasnya.

Like, Comment, or Share:

Tulisan Lainnya dari Haryo Brono

Artikel Terkait