Kolaborasi Pariwisata untuk Mitigasi Tsunami Tanjung Benoa
📅 Kamis, 26 Des 2024, 22:53 WIB | Oleh: OnesKeterlibatan peran industri pariwisata ini dibangun lewat edukasi dan simulasi rutin, memastikan seluruh penduduk tahu kemana mereka harus berlari ketika muncul tanda-tanda tsunami.
Sembilan hotel yang sepakat secara resmi membantu penduduk ini berada tersebar di sepanjang jalan utama Tanjung Benoa, tiap masyarakat dibagi bangunan tinggi mana yang harus dituju sesuai tempekan atau kelompok jalan rumah.
Mereka hanya memiliki waktu emas 20 menit untuk menyelamatkan diri ketika air bah sampai ke daratan, sehingga semuanya harus terstruktur.
Meski area ini paling rawan, seluruh wilayah Kabupaten Badung terutama pesisir juga berpotensi terdampak, terdapat 17 kelurahan/desa lain di sekitarnya sehingga ditargetkan 200 hotel bisa membantu evakuasi penduduk.
Sebaiknya Anda baca juga:
Komitmen dunia usaha dalam kesiapsiagaan tsunami tidak hanya melalui bantuan mitigasi pasca-bencana, namun juga antisipasi lewat gerakan penanaman mangrove di pesisir dalam bentuk tanggung jawab sosial.
Kearifan Lokal
Kemampuan dalam memanfaatkan keberadaan sektor pariwisata tidak lepas dari koordinasi yang baik dari warga setempat, mereka sejak lama memiliki forum pengurangan risiko bencana (FPRB) karena kesadaran tinggi bahwa tanah yang mereka pijak sangat rawan bencana.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam menanggulangi bencana, unsur pentahelix antara komunitas masyarakat, pemerintah, swasta, akademisi, dan media berjalan beriringan.
Masyarakat saling mengedukasi dan mengingatkan tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi bencana, pemerintah mengoptimalkan rambu-rambu, membangun pusat komando berisi informasi real time kebencanaan dengan alat early warning system (EWS) milik BKMG, dan mengabarkan informasi seluas-luasnya, serta swasta memberi ruang berlindung bagi masyarakat.
Sinergi dalam pengurangan risiko bencana ini menjadi keunggulan masyarakat Tanjung Benoa, sejak lama kebiasaan komunikasi yang baik sudah terjalin antara warga adat dan warga dinas.
Selain itu, kearifan lokal yang mereka miliki adalah kemampuan membaca tanda-tanda alam, seperti air laut seketika terkuras dan muncul gelombang air tinggi, gempa bumi diikuti suara anjing menggonggong keras, hingga bau belerang yang menyengat.
Kesiapsiagaan ini membuat Tanjung Benoa menjadi barometer desa/kelurahan yang siap bencana meskipun daerah lain di Bali juga memiliki tingkat kerawanan tak jauh berbeda.
Pada 2022 lalu UNESCO akhirnya mengukuhkan Kelurahan Tanjung Benoa sebagai kelurahan tanggap tsunami, seluruh unsur di dalamnya dianggap mampu karena lolos dalam 12 indikator yang dikelompokkan dalam penilaian, kesiapan, dan respons yang baik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!