Kolaborasi Pariwisata untuk Mitigasi Tsunami Tanjung Benoa
📅 Kamis, 26 Des 2024, 22:53 WIB | Oleh: Ones
Doc: Antara
Denpasar - Bali yang alamnya indah tak luput dari kerawanan bencana yang dapat terjadi kapan saja. Berada di wilayah pertemuan lempeng Eurasia dan Indo-Australia membuat Pulau Dewata rawan bencana gempa bumi dan tsunami.
Setidaknya ada tiga sumber gempa bumi di Bali seperti megathrust Sumba di perairan selatan Bali, busur naik belakang Flores di bagian utara, dan 30 sesar di darat.
Salah satu daerah paling rawan tersapu bersih ketika gelombang air laut menggulung adalah pesisir Tanjung Benoa di Kabupaten Badung.
Daerah rawan ini belakangan digemari wisatawan elit, selain karena keindahan alamnya juga karena terletak tak jauh dari komplek ITDC dan tempat-tempat perhelatan internasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pangsa pasar yang jelas membuat industri pariwisata berbondong-bondong mencari rupiah dan dolar di sana, namun dunia usaha tak menutup mata soal besarnya ancaman bahaya yang dapat menghilangkan banyak nyawa.
Jika berkaca dari tsunami Aceh 20 tahun lalu, 200 ribu lebih penduduk kehilangan nyawa akibat air bah dan gempa bermagnitudo 9,3.
Bahaya yang sama juga mengancam penduduk lokal Tanjung Benoa, apalagi sejarah mencatat Bali pernah diterjang tsunami dahsyat tahun 1815 yang dipicu gempa bumi dengan magnitudo 7,5 dan menewaskan 10 ribu orang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berangkat dari masa kelam itu, dengan dukungan sektor pariwisata, Tanjung Benoa bangkit, dengan kecerdasannya, masyarakat membangun kesiapsiagaan bersama dunia usaha.
Peran Pariwisata
Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah kesediaan hotel-hotel yang berada di Tanjung Benoa untuk membuka pintu lebar bagi seluruh penduduk mengevakuasi diri jika terjadi tsunami.
Penata Penanggulangan Bencana Ahli Madya BPBD Badung I Wayan Netra mencatat sejak 2021 hingga saat ini sudah ada sembilan hotel yang sepakat dan layak menjadi lokasi berlindung masyarakat dan wisatawan.
Hotel tersebut antara lain Grand Mirrage Resort, Ion Bali Benoa, The Sakala Resort, Novotel, Benoa Sea Suites and Villas, Paninsula, Rasa Sayang Beach Inn, dan terbaru Hotel Sadara dan Hotel Lavaya.
Tidak sembarang hotel menjadi lokasi evakuasi, mereka wajib lolos sertifikasi, ketinggian tiga lantai, dan memiliki struktur bangunan yang kokoh. Untuk hal tersebut, sudah teruji saat gempa bumi Lombok 2018 silam. Tidak ada keretakan yang dialami hotel-hotel itu walau getaran gempa dengan magnitudo lebih dari 7 itu turut mengguncang Bali Selatan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!