Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

PBB Minta Negara-negara Siapkan Rencana untuk Hadapi Perubahan Iklim

📅 Rabu, 20 Nov 2024, 01:00 WIB | Oleh:
PBB Minta Negara-negara Siapkan Rencana untuk Hadapi Perubahan Iklim Doc: AFP/Alexander NEMENOV
Ket. Ketua iklim PBB, Simon Stiell menyampaikan pidato pada pembukaan Konferensi Perubahan Iklim PBB 2024 di Baku, pekan lalu.

BAKU – Kepala Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa, Simon Stiell, pada hari Senin (18/11), mengatakan setiap persiapan terhadap dampak perubahan iklim akan menentukan hidup dan matinya jutaan orang di seluruh dunia. 

Dikutip dari The Straits Times, pernyataannya di Perundingan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa, Conference of the Parties to the United Nations Framework Convention on Climate Change (COP29), di Azerbaijan, muncul saat Filipina dilanda badai tropis keenam dalam waktu kurang dari sebulan.

Topan Super Man-yi menghantam Luzon yang berpenduduk padat pada 17 November, menewaskan sedikitnya delapan orang dan memicu tanah longsor, menghancurkan rumah-rumah, dan memutus kabel listrik. Keenam badai dahsyat tersebut telah merenggut lebih dari 160 nyawa dan berdampak pada lebih dari 10 juta orang, serta menimbulkan kerusakan senilai sekitar 470 juta peso. 

Berbicara pada acara tingkat tinggi tentang adaptasi iklim, Stiell mencatat hampir setengah dari populasi manusia hidup di daerah rawan iklim, di mana orang-orang 15 kali lebih mungkin meninggal akibat dampak iklim. 

“Secara pribadi, saya merasa ini sangat mengganggu dan sangat menyinggung,” katanya.

Bahkan, saat ia mengajukan permohonan baru bagi negara-negara, terutama yang paling rentan, untuk mulai merencanakan perubahan iklim, Stiell menyerukan lebih banyak pembiayaan inovatif untuk menyalurkan uang kepada negara-negara yang perlu membangun ketahanan terhadap dampak iklim. 

"Kita tidak bisa lagi bergantung pada aliran dana kecil. Kita butuh aliran dana yang deras. Dana harus lebih mudah diakses, terutama bagi negara-negara yang paling rentan dan sering menghadapi hambatan terbesar," katanya.

Rencana Adaptasi

Negara-negara sebelumnya sepakat untuk menyiapkan rencana adaptasi nasional mereka pada tahun 2025, untuk dilaksanakan pada tahun 2030.

Rencana tersebut menjabarkan solusi jangka menengah dan panjang suatu negara untuk membatasi dampak perubahan iklim terhadap masyarakat. Hingga saat ini, 60 negara, sebagian besar negara berkembang atau negara kurang berkembang, telah menyerahkan rencana nasional mereka. Negara-negara Asia Tenggara yang masuk dalam daftar tersebut meliputi Kamboja, Thailand, Timor Leste, dan Filipina.

Upaya adaptasi Singapura tercantum dalam dokumen target iklimnya, yang terakhir diperbarui pada tahun 2022 dan diserahkan kepada PBB. Dokumen tersebut menguraikan upaya negara pulau tersebut untuk melindungi garis pantainya dari kenaikan muka air laut, yang diperkirakan menelan biaya 100 miliar dollar AS selama 100 tahun, di antara langkah-langkah lain seperti memperkuat ketahanan pangan dan memiliki program konservasi keanekaragaman hayati.

Biaya adaptasi negara-negara dapat meningkat hingga 340 miliar dollar AS per tahun pada tahun 2030, dan mencapai sebanyak 565 miliar dollar AS per tahun pada tahun 2050. “Pendanaannya sudah ada. Kita perlu membuka dan membuka blokirnya," ujar Stiel. 

Stiell mendesak bank pembangunan multilateral untuk berpikir melampaui hibah dan pinjaman tradisional, dan lembaga filantropi, sektor swasta, dan donor bilateral untuk melangkah maju tanpa menambah utang yang dihadapi oleh negara-negara yang rentan.

“Orang-orang yang menerima investasi ini tidak akan mengecewakan. Mereka ingin beradaptasi. Sering kali, mereka lebih tahu daripada kita tentang cara beradaptasi,” tambahnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Perilaku Manusia Harus Diubah Jika Ingin Bebas Sampah

13 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Perilaku Manusia Harus Diub...
Manusia Tak Beradab, Penyembelih Binatang Superlangka, Tapir, Harus Dihukum Berat

Manusia Tak Beradab, Penyembelih Binatang Superlangka, Tapir, Harus Dihukum Berat

03 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.