Terobosan Baterai Tanpa Nikel BYD, Ambisi Hilirisasi Nikel Indonesia Mulai Dipertanyakan
📅 Kamis, 02 Jul 2026, 11:38 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SJAKARTA – Terobosan teknologi baterai kendaraan listrik yang dikembangkan produsen otomotif asal Tiongkok, BYD, dinilai berpotensi mengubah peta industri kendaraan listrik global sekaligus menjadi tantangan baru bagi ambisi Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok nikel dunia.
Dalam analisis yang diterbitkan Asia Times, SUV terbaru BYD, "Datang", disebut telah membukukan sekitar 150.000 pesanan hanya dalam 53 hari sejak diluncurkan di Tiongkok. Menariknya, kendaraan tersebut menggunakan baterai generasi terbaru yang diklaim tidak lagi bergantung pada nikel.
Selama bertahun-tahun, baterai dengan kandungan nikel tinggi dianggap sebagai standar untuk menghasilkan mobil listrik dengan jarak tempuh yang jauh. Namun, keberhasilan BYD menghadirkan kendaraan premium tanpa nikel dinilai menjadi sinyal bahwa paradigma tersebut mulai berubah.
Meski BYD belum mengungkap secara resmi komposisi baterainya, sejumlah analis meyakini teknologi yang digunakan merupakan Lithium Manganese Iron Phosphate (LMFP), pengembangan dari baterai LFP yang mengganti nikel dan kobalt dengan mangan, besi, fosfat, dan litium.
Dengan baterai tersebut, varian tertinggi BYD Datang diklaim mampu menempuh hingga 950 kilometer berdasarkan standar pengujian CLTC, atau lebih dari 600 kilometer dalam penggunaan nyata di jalan raya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perkembangan itu dinilai dapat mengurangi ketergantungan industri kendaraan listrik terhadap nikel, yang selama ini menjadi salah satu komoditas andalan Indonesia.
Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah Indonesia mendorong hilirisasi nikel secara besar-besaran melalui pembangunan smelter dan industri baterai kendaraan listrik. Strategi tersebut bertujuan meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri sekaligus menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi baterai global.
Namun, menurut Asia Times, percepatan pengembangan teknologi baterai bebas nikel dapat mengurangi daya tawar Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik dunia apabila tren tersebut semakin luas diadopsi produsen otomotif.
Sebaiknya Anda baca juga:
Artikel itu juga menyoroti sejumlah kebijakan nasional yang dinilai memengaruhi iklim investasi, seperti perubahan kuota produksi, pungutan ekspor, hingga aturan devisa hasil ekspor. Kebijakan-kebijakan tersebut disebut telah meningkatkan kehati-hatian investor terhadap proyek hilirisasi nikel di Indonesia.
Selain itu, investasi besar perusahaan baterai asal Tiongkok, CATL, di Indonesia juga disebut menghadapi tantangan akibat perubahan teknologi baterai serta dinamika kebijakan perdagangan global, termasuk regulasi Amerika Serikat terkait rantai pasok kendaraan listrik.
Meski demikian, permintaan nikel secara global diperkirakan masih tetap tinggi, terutama untuk industri baja tahan karat yang hingga kini menyerap sebagian besar produksi dunia. Karena itu, sejumlah pengamat menilai nikel belum akan kehilangan perannya dalam waktu dekat, meski penggunaannya di sektor baterai kendaraan listrik berpotensi berkurang.
Pada akhirnya, analisis tersebut menyimpulkan bahwa kekayaan sumber daya alam saja tidak cukup menjamin keunggulan ekonomi jangka panjang. Inovasi teknologi, riset, dan pengembangan industri dinilai akan menjadi faktor penentu daya saing suatu negara di tengah pesatnya perubahan teknologi kendaraan listrik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!