Pertumbuhan Populasi Dunia Melambat, Apakah Baik untuk Lingkungan?
📅 Jumat, 11 Okt 2024, 14:03 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock/Takashi Images
Andrew Taylor, Charles Darwin University dan Supriya Mathew, Charles Darwin University
Pertumbuhan populasi manusia sedang melambat-fase yang sebelumnya dianggap mustahil. Jumlah laju pertumbuhan populasi penduduk dunia kemungkinan dapat memuncak lebih awal dari yang sebelumnya diperkirakan-sebanyak 10 miliar jiwa pada 2060-an-lalu mulai menurun.
Di negara-negara kaya, tren ini sedang berlangsung. Populasi penduduk Jepang menurun tajam, dengan angka kehilangan penduduk bersih atau net loss (setelah dikurangi angka kelahiran) sebesar 100 jiwa setiap jam. Di Eropa, Amerika, dan Asia Timur, angka kelahiran menurun drastis. Tren serupa juga berpeluang terjadi di banyak negara berpendapatan menengah bahkan rendah.
Perubahan ini sungguh luar biasa. Sepuluh tahun silam, para ahli demografi memerkirakan jumlah penduduk global dapat menyentuh 12,3 miliar jiwa, naik pesat dari 8 miliar tahun ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selama 50 tahun, beberapa pegiat lingkungan mencoba langkah-langkah pelestarian dengan memangkas pertumbuhan populasi global. Pada 1968, Buku The Population Bomb (Ledakan Populasi) menaksir kelaparan massal akan terjadi, sekaligus menuntut upaya pengendalian kelahiran berskala besar.
Kini, kita menghadapi realitas yang berbeda. Pertumbuhan populasi melambat tanpa upaya-upaya pengendalian, dan populasi negara maju menurun. Tren ini memicu upaya memancing warga untuk memiliki lebih banyak anak-yang tergesa-gesa, tapi tak efektif.
Lantas, apa dampak melambatnya populasi dunia bagi lingkungan?
Sebaiknya Anda baca juga:
Depopulasi sedang berlangsung
Depopulasi di banyak negara di Eropa, Amerika Utara, dan beberapa di Asia Utara, sudah berlangsung sejak dekade-dekade lalu. Angka kelahiran menurun secara konsisten sejak 70 tahun silam. Di kawasan-kawasan tersebut, angka ini tetap rendah, kala harapan hidup memanjang-jumlah orang-orang berusia lebih dari 80 tahun-akan bertambah dua kali lipat dalam 25 tahun ke depan.
China saat ini merupakan negara terpadat di dunia, menyumbang seperenam dari total populasi global. Namun, tren ini bisa berubah karena populasi Cina menurun, dengan laju yang diperkirakan akan semakin cepat.
Pada akhir abad ini, penduduk Cina ditaksir akan berkurang dua per tiga dari populasi saat ini sebanyak 1,4 miliar jiwa. Penurunan mendadak terjadi karena One Child Policy yang berlangsung lama.
Meski berakhir pada 2016, pengakhiran kebijakan ini sudah terlambat untuk menghindari penurunan populasi.
Jepang dulunya merupakan negara berpenduduk terbanyak kesebelas di dunia. Namun, populasi Jepang kemungkinan akan berkurang separuh sebelum akhir abad ini.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!