Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Berapa, Kapan, dan di Mana Teknologi Energy Storage akan Dibangun di Indonesia?

📅 Minggu, 06 Okt 2024, 11:40 WIB | Oleh: Tim Penulis

Kapan Indonesia mulai butuh penyimpanan energi?

Saat ini, penyimpanan energi belum diperlukan dalam skala besar. Sebab, kebutuhan listrik baru diperkirakan akan meningkat mulai 2035. Artinya, masih ada waktu bagi Indonesia untuk mempersiapkan sumber daya manusia, riset, dan kebijakan yang mendukung.

Opsi teknologi penyimpan energi paling umum saat ini antara lain pumped hydro storage atau PHS dan baterai litium-ion.

Berdasarkan studi yang kami lakukan, pumped hydro memang memiliki keunggulan biaya yang lebih rendah dalam jangka panjang. Namun, pembangunan pumped hydro storage membutuhkan waktu hingga 6 tahun atau bahkan bisa lebih lama.

Sebagai contoh, pembangunan pumped-storage Cisokan, Bandung Barat, kapasitas 1.040 MW yang telah dimulai sejak 2010, sampai saat ini masih dalam tahap pembangunan. Padahal, awalnya proyek ini akan ditargetkan beroperasi pada 2014.

Berbeda dengan pumped storage, baterai litium-ion memiliki waktu pembangunan yang lebih cepat, hanya sekitar 2-3 tahun. Oleh karena itu, saya lebih merekomendasikan baterai litium-ion sebagai opsi teknologi penyimpanan energi di masa depan.

Teknologi pumped storage juga mungkin dapat menjadi pilihan untuk dikombinasikan dengan baterai lithium-ion untuk keperluan jangka panjang. Namun dibutuhkan kajian lebih mendalam untuk pembangunan ini. Kedua jenis teknologi ini dapat digunakan
untuk menyangga listrik dari PLTB dan PLTS sehingga meningkatkan kestabilan sistem.

Biayanya dari mana?

Perhitungan kami, untuk membangun kapasitas penyimpanan energi guna mencapai kebutuhan energi terbarukan 100% pada 2060, Indonesia memerlukan investasi sekitar US$22 miliar atau sekitar Rp338 triliun, jika menggunakan baterai litium-ion. Apabila target 100% energi terbarukan ingin dicapai lebih cepat pada 2045, biaya ini akan meningkat menjadi sekitar US$185 miliar atau setara dengan Rp2.849 triliun.

Di samping itu, Indonesia juga perlu membangun pembangkit surya dan angin dengan total kapasitas 416-646 GW. Ini membutuhkan investasi antara US$82-247 miliar atau setara dengan Rp1.263-3.804 triliun.

Lantas dari mana biaya untuk membangun energy storage ini bisa kita dapatkan?

Indonesia mendapatkan komitmen bantuan pendanaan untuk transisi energi sebesar US$20 miliar melalui program Just Energy Transition Program, tapi ini tentu masih jauh dari cukup.

Kita memerlukan tambahan dana dari sektor swasta dan pemerintah untuk mencapai target ini.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Qatar Dorong Negara Teluk H...
Daerah
Harga Cabai di Mataram Turu...
Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.