Berapa, Kapan, dan di Mana Teknologi Energy Storage akan Dibangun di Indonesia?
📅 Minggu, 06 Okt 2024, 11:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation
Ahmad Amiruddin, Monash University
Indonesia telah berkomitmen dalam Paris Agreement untuk mencapai netral karbon pada 2060 atau lebih cepat. Target jangka pendeknya adalah mencapai bauran energi terbarukan hingga 23% pada 2025 dan mencapai 100% pada 2060. Namun, target energi terbarukan paling dekat ini pun sepertinya tidak akan tercapai.
Hingga kini baru sekitar 14% energi terbarukan di sektor ketenagalistrikan yang terwujud, dengan kapasitas terpasang hanya 8,6 gigawatt dari total 83 gigawatt. Itu pun, mayoritas juga masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), yang memiliki waktu konstruksi lama dan rentan terkendala konflik pembebasan lahan.
Biaya listrik dari kedua jenis pembangkit ini juga cenderung naik, berbeda dengan energi surya dan angin yang semakin murah. Misalnya, biaya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) telah turun hingga 90% sejak 2010.
Dengan fakta-fakta ini, saya ingin mengatakan bahwa energi surya dan angin memiliki potensi yang lebih besar untuk dimanfaatkan. Beberapa studi bahkan memperkirakan potensi energi surya bisa mencapai 7 terawatt-yang tersebar merata di seluruh Indonesia dengan tingkat pengunaan rata-rata 15%. Sedangkan energi angin tersebar di berbagai daerah seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Aceh dan Jawa Barat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski begitu, peningkatan penggunaan energi surya dan angin ini juga memiliki tantangan tersendiri karena sifatnya yang intermittent-hanya tersedia pada waktu tertentu. Misalnya, energi surya hanya dapat diproduksi di siang hari, sementara permintaan listrik terus ada sepanjang waktu. Untuk itu, kita memerlukan fleksibilitas dalam sistem kelistrikan. Di sinilah teknologi penyimpanan energi atau energy storage menjadi kunci.
Peran penting energy storage
Energy storage memungkinkan listrik dari sumber energi terbarukan bisa disimpan dan digunakan saat diperlukan. Teknologi ini sangat penting untuk mengatasi fluktuasi produksi energi dari surya dan angin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, belum banyak penelitian yang memetakan konfigurasi optimal teknologi penyimpanan energi yang dibutuhkan Indonesia.
Saya dan beberapa rekan peneliti mencoba memetakannya lewat sebuah penelitian. Kami membagi analisis ke dalam dua skenario, yakni: skenario super optimis capaian 100% energi terbarukan pada 2045 dan skenario capaian 100% energi terbarukan pada 2060-sesuai target pemerintah.
Walhasil, untuk skenario pertama, kami menemukan perhitungan bahwa untuk mencapai 100% energi terbarukan pada 2045, Indonesia membutuhkan kapasitas penyimpanan energi sebesar 207 GW/1.517 GWh. Ini setara 50% dari total kapasitas PLTS dan PLTB yang diperlukan.
Sementara itu, untuk skenario kedua, Indonesia membutuhkan kapasitas penyimpanan 54 GW pada 2045 atau 30% dari kapasitas PLTS dan PLTB yang dibutuhkan.
Lokasi-lokasi utama yang bisa dipakai untuk pembangunan penyimpanan energi ini adalah daerah-daerah yang dekat dengan sumber konsumsi listrik, seperti Banten, Jawa Tengah, Jakarta, Jawa Barat, dan Sumatra Selatan.
Dalam tahap awal, kita bisa menggunakan teknologi penyimpanan berdurasi 2 jam dengan daya 100 megawatt dan selanjutnya bisa ditingkatkan menjadi 4 hingga 10 jam seiring peningkatan kapasitas energi terbarukan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!