Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Program Lumbung Pangan Tak Atasi Masalah Papua

📅 Selasa, 17 Sep 2024, 10:43 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Program Lumbung Pangan Tak Atasi Masalah Papua Doc: ISTIMEWA

JAKARTA - Program lumbung pangan satu juta hektare (ha) di Merauke, Papua, tak akan efektif mengatasi krisis pangan di daerah tersebut. Hal itu didasarkan pengalaman dari program lumbung pangan di sejumlah daerah yang terbukti gagal.

Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengatakan untuk kebutuhan beras secara nasional tidak bisa mengandalkan percetakan lahan di Merauke karena memang fokus pembangunan food estate Merauke ini untuk wilayah timur.

Ongkos angkutannya tidak akan cocok jika dikirim ke Indonesia bagian barat. Namun, masalahnya adalah makanan pokok di Papua bukan beras.

"Jadi, saya belum nampak pasarnya seperti apa nanti yang akan menyerap," ucap Huda, Selasa (16/9) menanggapi program lumbung pangan di Merauke.

Akhirnya, lanjut Huda, impor akan jadi pilihan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan di Indonesia bagian barat terutama konsumen di Pulau Jawa.

Menurutnya, pembangunan food estate atau program lumbung pangan harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan karakteristik permintaan daerah setempat. "Jika tidak tepat, saya rasa berat bagi pemerintah dalam mengelola proyek tersebut," tegasnya.

Masalah sumber daya manusia (SDM) menjadi kendala sebab tidak semua petani lokal paham cara menanam padi dengan baik dan benar. Pada akhirnya, yang ditarik adalah orang Jawa lagi.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, mengatakan program ekstensifikasi seharusnya dipertimbangkan lokasi yang strategis. "Saya rasa Papua bukan lokasi yang tepat karena beras bukan makanan utama penduduk Papua," tegas Ether.

Jika pun beras dikirimkan ke Jawa atau Indonesia bagian barat, lanjutnya, maka biayanya akan mahal sehingga harga pokok penjualan (HPP) beras pun akan mahal. Secara teknis harus dilihat kesesuaian Papua untuk dibuat sawah.

"Selain itu, program intensifikasi bisa dilakukan dulu karena lahan sudah ada. Teknologi, infrastruktur dan sarana prasarana (sarpras) pertanian serta bimbingan teknis untuk petani harus dimaksimalkan untuk peningkatan produksi beras," jelasnya.

Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, menegaskan pemerintah harus mereformasi kebijakan di sektor pangan. Hal itu demi menghindarkan dari kebergantungan impor pangan yang menyedot devisa negara.

Caranya, kata Awan, melalui penguatan kemandirian pangan. "Yang mesti dilakukan yakni optimalisasi pangan lokal yang didukung dengan kebijakan produksi, tata niaga, dan konsumsi yang memperkuat kelembagaan petani," ucap Awan.

Awan membedah secara terperinci peranan pemerintah di masing masing sektor tersebut. Untuk sisi produksi, misalnya, pemerintah perlu memfasilitasi dan mensubsidi sarana produksi pertanian seperti halnya pupuk, teknologi tepat guna, dan pemanfaatan teknologi informasi.

Lalu pada bagian tata niaga, pemerintah perlu intervensi melalui kebijakan harga yang adil dan penguatan koperasi tani dalam distribusi hasil pertanian.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Kenaikan Harga BBM Picu Aks...

Pasar pangan murah menjangkau warga Jakarta

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Pasar pangan murah menjangk...

Trisakti Bantu Warga Duri Kosambi Olah Sampah

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Megapolitan
Trisakti Bantu Warga Duri K...

Hari Santri Nasional

2 jam lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

2 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.