Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

FFR Diprediksi Turun 125 Bps hingga Akhir 2024

📅 Jumat, 16 Agu 2024, 06:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
FFR Diprediksi Turun 125 Bps hingga Akhir 2024 Doc: istimewa

JAKARTA - Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed diperkirakan secara agresif memangkas suku bunga acuan mulai bulan depan. Di sisa waktu tahun ini, The Fed bakal memangkas bunga acuan sebesar 125 basis poin (bps).

Chief Economist Citi Indonesia, Helmi Arman memperkirakan suku bunga The Fed atau Fed Fund Rate (FFR) bergerak turun sebesar 50 basis poin (bps) pada September tahun ini serta diikuti penurunan 50 bps lagi pada November 2024.

"Setelah itu diikuti dengan penurunan sebesar 25 bps pada setiap pertemuan (FOMC). Sehingga di pertengahan tahun 2025, suku bunga Fed Fund Rate mencapai 3,25 persen," kata Helmi saat pemaparan prospek ekonomi di Jakarta, Kamis (15/8).

Sebagai catatan, dewan kebijakan The Fed atau Federal Open Market Committee (FOMC) dijadwalkan menggelar rapat tiga kali lagi di sisa waktu tahun ini, yakni September, November dan Desember. Adapun, suku bunga acuan telah dipertahankan pada kisaran 5,25-5,5 persen sejak Juli 2023.

Lebih lanjut, Helmi mengatakan siklus penurunan suku bunga AS sudah semakin mendekat. Hal ini didukung oleh tren data ekonomi AS dalam beberapa minggu terakhir yang semakin menunjukkan bahwa sektor manufaktur di negara itu semakin melemah dan tekanan inflasi semakin turun walaupun belum mencapai 2 persen.

"Tapi walaupun inflasi belum sampai 2 persen, kita juga melihat terjadi akselerasi tingkat pengangguran di AS yang ini dianggap sebagai leading indicator untuk tekanan inflasi ke depannya," kata dia.

Helmi menilai, kemungkinan terjadinya soft landing di AS saat ini semakin kecil. Citi juga memandang bahwa perekonomian AS semakin mengarah ke resesi. Sehingga Citi berekspektasi bahwa suku bunga AS akan bergerak turun dengan cepat di awal siklus penurunan bunganya.

Helmi mengatakan, pasar keuangan global juga sudah merefleksikan ekspektasi tersebut. Hal ini sedikit banyak tercermin pada kurva imbal hasil AS yang mengalami penurunan selama beberapa minggu terakhir serta penurunan indeks dolar AS atau US dollar indeks (DXY).

"Seperti yang kita lihat sekarang DXY sudah berada di kisaran 102. Jadi kalau kita bandingkan dengan posisi awal Juli itu sekitar 105," kata dia.

Dampak Resesi

Mengenai dampak resesi AS bagi Indonesia, dari sisi ekspor, Helmi memperkirakan pelemahan consumer demand di AS kemungkinan dapat berdampak pada kinerja ekspor-ekspor tertentu di Indonesia.

Namun, kata dia, dampak terbesar resesi AS akan masuk melalui neraca arus modal dan dampak ini seharusnya positif. Ketika terjadi resesi di AS, biasanya di awal terjadi arus modal masuk ke negara-negara berkembang dan seharusnya hal ini terus membantu keseimbangan demand dan supply di pasar valuta asing (valas) di Indonesia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Forum Ulama Satukan Komitmen Tolak Politik Uang di Muktamar ke-35 NU
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
  • Cuaca Hari Minggu Cerah Berawan di Sebagian Besar Wilayah Indonesia
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
  • 269 Lulusan PT Terpilih untuk Program Magang Nasional di Kemenpar
    Preview komentar:
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
Daerah
Kabut Asap Mengancam Keseha...
Luar Negeri
Utang Meningkat, Rakyat Jep...
Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.