Rupiah Melemah karena 'Stance Dovish' pada Rapat FOMC Belum Dominan
📅 Sabtu, 25 Nov 2023, 00:02 WIB | Oleh: Eko S
Doc: ISTIMEWA
JAKARTA - Pelemahan rupiah dipicu dollar Amerika Serikat (AS) stance dovish pada notulensi rapat Federal Open Market Committee (FOMC) belum dominan. Secara mingguan, rupiah ditutup melemah terhadap dollar AS sejalan dengan penguatan dollar AS dalam tiga hari terakhir.
"Pelemahan ini sejalan dengan penguatan dollar AS dalam tiga hari terakhir yang dipicu oleh belum dominannya stance dovish pada notulensi rapat FOMC November yang didukung oleh rilis data ekonomi AS yang masih solid," kata Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, ketika dihubungi di Jakarta, Jumat (24/11).
Seperti diketahui dovish adalah sikap bank sentral untuk menunda kenaikan suku bunga, bahkan menurunkannya. Selain itu, mereka biasanya akan melonggarkan kebijakan moneter. Dalam konteks ini, para pemangku kebijakan memilih untuk memprioritaskan pertumbuhan ekonomi dibandingkan menjaga tingkat inflasi agar tetap rendah.
Jika sikap dovish mendapatkan persetujuan forum maka pemerintah bank sentral akan mengambil kebijakan moneter ekspansif dengan menurunkan suku bunga acuan. Dengan tingkat bunga yang rendah, masyarakat jadi tergerak untuk mengambil pinjaman di bank.
Oleh karena itu, nggak heran kalau saat bunga acuan sedang rendah, tingkat konsumsi di masyarakat juga meningkat dan roda perekonomian kembali berputar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ekspektasi Pelaku Pasar
Seperti dikutip dari Antara, pasar menunggu rilis Purchasing Managers Index (PMI) AS yang akan memberikan petunjuk terkait prospek ekonomi AS, sehingga mempengaruhi ekspektasi pelaku pasar terhadap timing penurunan suku bunga Federal Reserve (the Fed).
Saat ini, indeks dollar diperdagangkan di level 103,74 atau melemah tipis 0,18 persen dibandingkan penutupan hari Kamis (23/11).
Sebaiknya Anda baca juga:
Setelah libur Thanksgiving, dan menjelang sesi AS yang lebih pendek, imbal hasil obligasi AS naik di seluruh kurva. Imbal hasil 10 tahun naik 5 basis points (bps) ke 4,45 persen. "Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan berada di rentang 15.550 rupiah-15.675 rupiah pekan depan sejalan dengan ekspektasi permintaan dollar AS pada akhir bulan," ungkap Josua.
Pada penutupan perdagangan hari ini, mata uang rupiah melemah 12 poin atau 0,08 persen menjadi 15.565 rupiah per dollar AS dari penutupan sebelumnya sebesar 15.553 rupiah per dollar AS.
Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat menguat ke posisi 15.587 rupiah per dollar AS dari sebelumnya 15.493 rupiah per dollar AS.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat sore ditutup menguat di tengah pelemahan bursa saham kawasan Asia. IHSG ditutup menguat 5,29 poin atau 0,08 persen ke posisi 7.009,63. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 1,36 poin atau 0,15 persen ke posisi 924,86.
"Indeks saham di Asia sore ini ditutup beragam (mixed) dengan kecenderungan melemah, dengan indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang ditutup turun, karena investor semakin yakin bahwa suku bunga acuan di Amerika Serikat (AS) sudah mencapai puncaknya," kata Tim Riset Phillip Sekuritas Indonesia dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.
Selain itu, pelaku pasar mencerna rilis data inflasi Jepang, di mana Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) naik 3,3 persen year on year (yoy) pada Oktober 2023 atau tertinggi sejak Juli 2023, dan lebih cepat dari kenaikan 3,0 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!