Harga Makin Murah, RI Harus Tambah Kapasitas EBT
📅 Kamis, 16 Nov 2023, 00:03 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: RAQUEL CUNHA POOL / AFP
JAKARTA - Indonesia harus terus menambah kapasitas energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi agar target net zero emission (NZE) yang telah ditetapkan pada 2060 mendatang bisa tercapai.
Pertimbangan untuk terus menambah porsi energi hijau itu karena menurut data Bloomberg pada 2022 lalu, harga energi ramah lingkungan di hampir semua negara kini semakin murah dibanding dengan energi fosil seperti listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan batu bara.
Presiden Wartsila Energy, Anders Lindberg, saat Media Round Table mengenai Transisi Energi di Tangerang, Rabu (15/11), mengatakan bauran energi dapat menurunkan biaya listrik lebih dari 20 persen.
Jalan menuju NZE, kata Lindberg, merupakan sebuah pendakian yang menanjak karena membutuhkan penggunaan kapasitas energi terbarukan sebesar 1.100 gigawatt (GW) di seluruh Asia Tenggara dalam 30 tahun mendatang.
Sebab itu, perlu menambahkan lebih dari 25 GW kapasitas tenaga surya dan angin setiap tahunnya hingga tahun 2050. "Dengan berinvestasi pada energi terbarukan, kita tidak hanya dapat mengurangi emisi CO2, namun juga mengurangi biaya listrik secara keseluruhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," papar Lindberg.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan semakin murahnya harga produksi energi ramah lingkungan maka target NZE bisa dipercepat dengan catatan menambahkan teknologi penyimpanan yang fleksibilitas. Sebab, tantangan tersendiri bagi energi terbarukan yaitu produksi energinya bersifat intermiten dan sangat bervariasi. Oleh karena itu, energi tersebut perlu diimbangi dengan kapasitas yang fleksibel seperti mesin penyeimbang jaringan dan penyimpanan energi untuk memastikan daya yang stabil dan andal.
"Kebutuhan listrik itu menyangkut suplai dan demand, kita harus mengantisipasi misalnya untuk tenaga surya kalau kapasitas sinar Matahari kurang, begitu juga dengan tenaga bayu jika kecepatan udara rendah, di sinilah fungsi fleksibilitas," katanya.
Wärtsilä, katanya, membuat model sistem ketenagalistrikan net zero di Indonesia, Vietnam, dan Filipina. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa sistem tenaga listrik yang fleksibel dapat mendukung integrasi lebih banyak energi terbarukan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Target Iklim
Listrik yang terjangkau dan berkelanjutan sangat penting bagi pertumbuhan perekonomian di Asia. Saat ini, tingkat pertumbuhan tahunan Asia Tenggara yang luar biasa yaitu sekitar 8-10 persen, sebagian besar masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Padahal sektor ketenagalistrikan, ungkap Lindberg, memainkan peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, namun juga merupakan penyumbang emisi CO2 terbesar secara global yaitu sekitar 38 persen.
Sebelumnya, Badan Energi Internasional IEA memproyeksikan konsumsi bahan bakar fosil akan mencapai puncaknya sebelum 2030, dan mengalami penurunan permanen seiring dengan kebijakan iklim.
Pengamat EBT dari Universitas Brawijaya Malang, Suprapto, mengatakan proyeksi IEA itu wajar, mengingat dunia saat ini dalam proses transisi energi. Negara-negara sedang bersama-sama mengejar target iklim meskipun kadang kala belum sesuai harapan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!