Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Fenomena Penjualan Online 'Makan' Korban Pusat Perbelanjaan

📅 Minggu, 09 Jul 2023, 11:37 WIB | Oleh:
Fenomena Penjualan Online 'Makan' Korban Pusat Perbelanjaan Doc: Istimewa
Ket. Seorang wanita berjalan di dalam pusat perbelanjaan yang sepi di Jakarta.

JAKARTA - Bahkan setelah pemerintah menyatakan pandemi COVID-19 berakhir dan menghapus semua pembatasan, hunian pusat perbelanjaan belum kembali seperti sebelum wabah. Hampir tidak ada pelanggan yang berkeliaran di lorong pusat perbelanjaan Jakarta yang sunyi.

Deretan toko yang kosong dan tutup menjadi bukti dampak pandemi COVID-19 yang menyebabkan keterpurukan ekonomi secara masif dan menghancurkan bisnis pemilik sebelumnya.

Namun di tengah kesunyian dan kesuraman, ada tanda-tanda aktivitas. Suara antusias terdengar saat pemilik toko berbekal ponsel dan lampu kecil, menyapa pelanggan virtual dari seluruh Indonesia.

Dia dengan antusias melakukan penjualan langsung di platform e-commerce dan media sosial seperti TikTok, Shopee, dan Instagram.

"Ini adalah cara yang baik untuk memperkenalkan produk kami, kualitas dan pengerjaannya kepada khalayak luas," kata penjaga toko, Hariyanti, baru-baru ini.

Hariyanti mengatakan bahwa tokonya dapat menjual rata-rata 100 pasang sepatu setiap hari secara online. "Offline, kami hanya bisa menjual 20 atau 30 pasang pada hari yang ramai," katanya.

Untuk beberapa pengecer, menjual produk mereka secara online mungkin dimulai sebagai taktik bertahan hidup untuk mengatasi dampak pandemi ketika mobilitas dan aktivitas sosial sangat dibatasi.

Dikutip dari Channel News Asia (CNA), namunbeberapa toko melihat manfaat e-commerce dalam bentuk pasar yang lebih luas dan pendapatan yang lebih besar dan terus melanjutkan praktiknya bahkan setelah pembatasan ini dicabut.

"Tidak mengherankan jika kita melihat toko-toko saat ini melayani campuran pelanggan fisik dan virtual sementara yang lain memutuskan untuk fokus pada penjualan online sepenuhnya," kata Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara.

Tetapi fenomena itu harus dibayar mahal.
Pandemi terbukti menjadi paku terakhir di peti mati untuk beberapa jaringan department store dan supermarket terbesar di Indonesia, yang bisnisnya telah lama tergerus oleh kehadiran platform e-commerce.

Jaringan supermarket Giant menutup semua 395 gerainya pada 2021. Pada tahun yang sama, department store Centro mengajukan kebangkrutan dan menutup semua 12 gerainya.

Sementara itu, beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta tampak di ambang kehancuran dengan tinggal segelintir penyewa yang tersisa, meski beberapa di antaranya berlokasi strategis.

Di tengah pergeseran lanskap ritel, beberapa mal di Jakarta telah menjadi ruang penyimpanan tempat penyewa, sebelum mengirimkan produknya, yang sering dikunjungi bukan oleh pelanggan melainkan oleh kurir.

"Tidak ada lagi yang benar-benar perlu berbelanja di mal ketika Anda dapat membeli barang dengan nyaman di rumah Anda sendiri," kata Adhinegara.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Forum Ulama Satukan Komitmen Tolak Politik Uang di Muktamar ke-35 NU
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
  • Cuaca Hari Minggu Cerah Berawan di Sebagian Besar Wilayah Indonesia
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
  • 269 Lulusan PT Terpilih untuk Program Magang Nasional di Kemenpar
    Preview komentar:
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
Advertisement
injourney
Advertisement
astra2

PDIP Jatim Bidik Kursi Gubernur pada Pemilu 2029

2 jam lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
PDIP Jatim Bidik Kursi Gube...
Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla

Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.