Fenomena Penjualan Online 'Makan' Korban Pusat Perbelanjaan
📅 Minggu, 09 Jul 2023, 11:37 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SSelama tiga bulan pertama 2023, pusat perbelanjaan di kota tersebut memiliki tingkat hunian 69 persen, dibandingkan dengan 79,8 persen pada kuartal terakhir tahun 2019, sebelum pandemi melanda.
Mal yang melayani merek-merek mewah dan premium bernasib lebih baik, kata perusahaan itu. Pada kuartal pertama 2023, mereka 84,5 persen terisi.
Hal yang sama tidak berlaku untuk pusat perbelanjaan yang melayani pasar menengah dan bawah. Selama periode yang sama, mal-mal ini rata-rata memiliki tingkat hunian 47 persen.
Harus berubah
Sebaiknya Anda baca juga:
Adhinegara dari CELIOS mengatakan, masa depan tampak suram bagi pusat perbelanjaan yang menargetkan rumah tangga berpenghasilan rendah karena sebagian besar barang yang dijual di tempat-tempat ini banyak tersedia secara online.
"Banyak penyewa mereka yang sangat terpengaruh oleh pandemi. Beberapa tutup, beberapa harus secara drastis mengurangi pengeluaran mereka dan mencari alternatif yang lebih murah, yang lain memutuskan tidak lagi masuk akal untuk mengoperasikan toko fisik sama sekali," katanya.
"Di bagian lain Indonesia di mana penetrasi internet rendah dan biaya pengiriman tinggi, mal semacam ini mungkin masih ada, tetapi tidak di Jakarta."
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam upaya untuk meningkatkan pengeluaran, Presiden Joko Widodo baru-baru ini mendeklarasikan dua hari di sekitar hari raya Idul Adha, yang jatuh pada 29 Juni, sebagai hari cuti bersama, yang secara efektif memberi masyarakat Indonesia akhir pekan selama lima hari.
"Liburan harus mendorong perekonomian, terutama di daerah dan kawasan pariwisata lokal, menjadi lebih baik," kata Jokowi.
Keputusan itu berdampak pada beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta yang melaporkan peningkatan aktivitas selama lima hari libur. Namun, efek kebijakan tersebut berumur pendek dan semuanya kembali seperti semula pada 3 Juli, menurut vendor yang diwawancarai.
Ketua Asosiasi Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI),Alphonzus Widjaja, mengakui beberapa pusat perbelanjaan kesulitan menarik pelanggan dan penyewa.
Mal seharusnya tidak lagi hanya untuk berbelanja karena mereka akan bersaing langsung dengan e-commerce, katanya kepada CNA.
"Sebaliknya, mal harus menjadi tempat terbentuknya interaksi sosial. Itu perlu menjadi pusat kegiatan. Ini adalah hal-hal yang dirindukan orang setelah mereka keluar dari pandemi dan ini adalah hal-hal yang tidak dapat ditawarkan oleh platform e-niaga," ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!