Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Sejarah 17 Februari: Mega Tsunami Setinggi 100 M Hantam Pulau Ambon

📅 Jumat, 17 Feb 2023, 09:45 WIB | Oleh:
Sejarah 17 Februari: Mega Tsunami Setinggi 100 M Hantam Pulau Ambon Doc: Science Photo
Ket. Ilustrasi.

Lebih dari tiga ratus tahun yang lalu, sebuah tsunami raksasa setinggi puluhan meter yang menghantam Pulau Ambon dan Pulau Seram pada 17 Februari 1674. Akibat tingginya gelombang, sekitar 2.322 orang dilaporkan tewas

Menurun Indian Ocean Tsunami Information Center (IOTIC) UNESCO, gempa bumi yang sangat kuat melanda seluruh Pulau Ambon dan pulau-pulau sekitarnya. Semua rumah batu dan gereja dilaporkan retak sedemikian rupa sehingga tidak dapat digunakan lagi. Di Semenanjung Leitimor dan Hitu, tanah retak terjadi di banyak tempat dan terjadi banyak longsoran, terutama di Pegunungan Wawani dan Manuzau.

Segera setelah gempa, tsunami terjadi di seluruh pantai di Pulau Ambon. Di wilayah pantai barat laut Semenanjung Hitu yang paling menderita, air laut dilaporkan naik 80 sampai 100 meter.

Adapun BNPB merilis data bahwa ketinggian mencapai 70-90 meter.

"Pada hari ini [17/2], 346 tahun yang lalu, gempa bumi mengguncang Ambon dan sekitarnya, pada malam tanggal 17 Februari 1674." Demikian rilis BNPB.

Menurut keterangan saksi mata yang dihimpun IOTIC, air laut dikatakan naik setinggi gunung. Mulanya, air laut menggenangi Loboleu, kemudian terbagi menjadi tiga aliran.

Salah satunya menyebar di sepanjang pantai ke barat ke Lima dan Urien, yang lain ke timur ke Hile, dan aliran air lainnya mengarah ke Cape Ryst di Pulau Seram. Aliran air yang dikabarkan berwarna hitam itu membawa serta pohon, rumah, ternak, dan orang-orang yang tergulung ombak.

Pohon-pohon, termasuk yang ada di perkebunan cengkeh, yang menutupi lereng pantai berkapur di wilayah Mamala sampai ke Lima, tumbang. Hanya perkebunan dataran tinggi di Nausihola, Wakal dan Hitulama yang lolos dari kehancuran.

Di Larike yang merupakan wilayah benteng Belanda, air naik hingga dua meter. Di jalan menuju Boboleu dekat Lima, air yang bercampur lumpur dan pasir naik dan membawa pergi batu-batu besar. Para prajurit berlindung di atap gedung dan di pepohonan. Setidaknya dua dari 12 orang tewas, sementara enam lainnya terluka parah.

Sebagian pemukiman Binau hanyut dan 86 orang meninggal dunia. Di Ceyt, air naik ke celah-celah benteng dengan kekuatan sedemikian rupa. Air merobohkan semua rumah di permukiman yang berdekatan di Ceyt, Loboleu dan Wassela. Sekitar 619 orang dilaporkan meninggal di Layn.

Di Hila, tsunami menerjang benteng setebal 2,5 meter dan menggesernya hingga ke pondasi. Semua bangunan di sekitarnya hancur dan menyebabkan 1.461 orang meninggal.

Secara keseluruhan, Gempa yang terjadi pada antara pukul 19.30-20.00 waktu setempat dan memicu tsunami itu menewaskan 2.322 orang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Advertisement
Menhub Instruksikan untuk Prioritaskan Evakuasi Penumpang KMP Virgo Transport 8

Menhub Instruksikan untuk Prioritaskan Evakuasi Penumpang KMP Virgo Transport 8

13 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.