Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Cabai Rawit Makin Pedas, BPS Catat Harga Tembus Rp73 Ribu!

📅 Senin, 07 Sep 2026, 18:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Cabai Rawit Makin Pedas, BPS Catat Harga Tembus Rp73 Ribu! Doc: ANTARA/Adiwinata Solihin
Ket. Seorang pedagang menimbang cabai rawit pesanan pembeli di Pasar Dungingi, Kota Gorontalo, Gorontalo.

JAKARTA – Harga cabai rawit kembali menjadi perhatian setelah mengalami kenaikan di sejumlah daerah.

Komoditas yang lekat dengan kebutuhan dapur masyarakat ini memang kerap sensitif terhadap perubahan pasokan, cuaca, hingga distribusi.

Ketika stok di pasar menipis sementara permintaan tetap tinggi, harga pun mudah terdorong naik dan ikut menambah beban belanja rumah tangga.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mencatat harga cabai rawit secara nasional pada minggu pertama September 2026 mencapai sekitar Rp73.000 per kilogram atau telah berada di atas harga acuan penjualan (HAP) tingkat konsumen.

Amalia mengatakan kenaikan harga tersebut mencapai 22,3 persen dibandingkan harga pada Agustus 2026 yang tercatat sebesar Rp59.760 per kilogram, sedangkan HAP cabai rawit Rp57.000 per kilogram.

"Sampai dengan minggu pertama September 2026 ini ada 251 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH cabai rawit dan harga cabai rawit secara nasional saat ini sudah Rp73.000 dan sudah di atas HAP," ujar Amalia di Jakarta, Senin (7/9).

Menurutnya, kenaikan harga cabai rawit tersebut perlu menjadi perhatian karena terjadi di banyak kabupaten/kota atau sekitar 69,72 persen wilayah di Indonesia.

Harga cabai rawit tertinggi berada di Kabupaten Nduga yang mencapai Rp200.000 per kilogram, disusul Kabupaten Halmahera Timur Rp179.333 dan Kabupaten Intan Jaya Rp170.000.

Daerah lain yang juga mengalami kenaikan harga cabai rawit yakni Kabupaten Kepulauan Sangihe Rp161.733 per kilogram, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Rp142.667, dan Kabupaten Pohuwato Rp141.333.

Sementara itu, rata-rata nasional harga daging ayam ras pada minggu pertama September 2026 tercatat sebesar Rp41.897 per kilogram, sedangkan HAP ditetapkan Rp40.000 per kilogram.

Kenaikan ini terjadi di 220 kabupaten/kota atau 61,11 persen wilayah di Indonesia. Harga tertinggi tercatat sebesar Rp100.000 per kilogram di Kabupaten Intan Jaya, Rp85.000 di Kabupaten Yahukimo, dan Rp80.000 di Kabupaten Pegunungan Arfak, Kabupaten Pegunungan Bintang, dan Kabupaten Nduga.

Kenaikan harga cabai rawit menjadi sinyal bahwa gejolak harga pangan masih perlu diantisipasi, terutama ketika pasokan terganggu oleh faktor cuaca dan distribusi.

Pemerintah bersama pelaku usaha diharapkan mampu menjaga kelancaran pasokan agar kenaikan tidak berlarut-larut.

Sebab, bagi masyarakat, harga cabai yang makin “pedas” bukan sekadar urusan dapur, tetapi juga menyangkut daya beli dan pengeluaran rumah tangga.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Perkuat Daya Saing di Tengah Dinamika Pasar Global, VDNI Pacu Pertumbuhan Berkelanjutan di 2026
    Langkah strategis PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) ...
  • Pariwisata Indonesia Siap Naik Kelas! Kemenpar Perluas Jejaring Bisnis hingga India
    Langkah proaktif Kementerian Pariwisata melalui Sales Mission Pune ...
  • Jakarta Didorong Jadi Pusat Industri Kopi Nasional, Libatkan 193 Ribu Pelaku Usaha
    Membaca artikel yang sangat komprehensif ini, saya merasa ...
  • Gunung Anak Krakatau Terus Erupsi, Jakarta Kena Sebaran Abu Vulkanik
    Sangat mungkin terjadi erupsi yg lebih besar, kemarin ...
  • Ditentang AS, PBB Adopsi Resolusi 'Koreksi Peta Dunia', Benua Afrika Ternyata 14 Kali Lebih Besar!
    Indonesia lebih besar dari Eropa. Jarak antara Sabang ...
Megapolitan
Sejumlah Apotek di Bekasi K...
Advertisement
Penutupan Soekarno-Hatta Diperpanjang hingga 23.59 WIB

Penutupan Soekarno-Hatta Diperpanjang hingga 23.59 WIB

07 Sep 2026
Pilihan Pembaca
# 3
# 3
Wapres Sara Duterte Bayar Uang Jaminan
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.